113 KK di Takabonerate Dapat Bantuan KWH Gratis, Awiluddin Sihak ke H. Ridwan Andi Wittiri: Saya Ucapkan Terimakasih
BUKABACA.co.id, SELAYAR — Harapan akan penerangan akhirnya terwujud bagi ratusan warga pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar. Melalui dukungan Anggota Komisi VII DPR RI, H. Ridwan Andi Wittiri, program pemasangan KWH listrik untuk 150 kepala keluarga disetujui pemerintah pusat dan mulai direalisasikan, meski tahap awal baru menjangkau 113 KK.
Awiluddin Sihak, yang akrab disapa Awil, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas perhatian pemerintah pusat dan peran wakil rakyat, serta Ketua DPC PDIP Kabupaten Kepulauan Selayar, Muhammad Anas Ali dalam memperjuangkan kebutuhan dasar masyarakat kepulauan.
“Saya mengajukan 150 KK, tapi yang bisa direalisasikan 113 KK. Walaupun begitu, saya sangat bersyukur. Warga pulau di Desa Nyiur Indah, Desa Batang, dan Desa Kayuadi, Kecamatan Takabonerate, Kepulauan Selayar akhirnya akan menikmati penerangan dari PLN,” ujar Awil kepada bukabaca.co.id, Selasa (23/12/2025), dengan bangga.
Bagi Awil, cahaya listrik yang segera menyala di rumah-rumah warga bukan sekadar fasilitas, melainkan simbol harapan. Terlebih, ia kini harus menjalani hari-hari di balik jeruji besi. Meski berhadapan dengan persoalan hukum, Awil memilih tetap tegar dan menerima semuanya dengan jiwa besar.
“Semua ini saya jalani dengan santai. Yang penting niat saya untuk masyarakat bisa terwujud,” katanya.
Awil juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang belum terakomodir dalam tahap awal pemasangan KWH listrik. Ia menyadari harapan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi.
“Untuk masyarakat yang belum terealisasi permintaan pemasangan KWH-nya, saya minta maaf. Ada kendala administrasi. Semoga ke depan bisa terealisasi,” ujarnya.
Di balik keterbatasan ruang gerak, perjuangan Awil menghadirkan terang bagi masyarakat kurang mampu tetap menyala. Baginya, pengabdian tidak berhenti meski kebebasan direnggut keadaan.
Ia pun menegaskan bahwa kehadiran wakil rakyat sejatinya adalah untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat.
“Ada orang divonis satu bulan, sedihnya satu bulan. Tapi ada juga orang yang divonis hukuman mati justru sujud syukur. Bedanya di mana? Bedanya adalah di tanggung jawab,” tutup Awil penuh makna. (fdy/fdy)
























