Tinggal di Tengah Kota Tanpa Pelita, Berdinding Terpal, Beralas Tanah, Begini Kisah Kakek Mareng
bukabaca.id, Palopo – Terkadang saat kita melihat ke luar, masih banyak masyarakat di sekitar kita yang tengah mengalami kesulitan dalam menjalani hidup. Salah satu yakni keluarga Mareng.
Mareng adalah sosok Kakek tua dengan umur 68 tahun. Dirinya tinggal bersama istrinya, Sulastri (60) dan juga 2 cucunya, di sebuah gubuk mini, berukuran 5 x 5 m. Lokasi gubuknya berada di samping lapangan futsal Sinar Situjuh, Kelurahan Takkalala, kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Dalam kehidupannya, sosok yang kerap disapa kakek Mareng tersebut bersama keluarganya tinggal di sebuah gubuk dengan keadaan gelap gulita tanpa penerangan, berdinding terpal hingga beralaskan tanah yang diketahui tanah tersebut bukanlah miliknya.
Menurut informasi yang diungkapkan langsung oleh Kakek Mareng, ia dan keluarga tinggal di tempat tak layak tersebut sudah 5 bulan. Sebelumnya ia tak di situ, namun karena ada masjid yang akan segera dibangun maka mereka memutuskan untuk pindah.
“Awalnya saya bersama keluarga dibangunan sebelah, namun adanya pembangunan masjid sehingga kita pindah. Sudah sekitar lima bulan kami dirumah gubuk ini,” jelas Sulastri.
Kebutuhan sehari-hari mereka, seperti kebutuhan air bersih, mereka mengambil dari tetangga untuk bisa ia konsumsi. Sulit rasanya untuk mereka bertahan hidup. Namun, dengan kesabaran penuh, mereka tetap ikhlas menjalani kehidupan mereka sehari-harinya.
Untuk saat ini, Kakek Mareng sudah tidak lagi bekerja keras. Hal ini melihat kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan untuk dirinya kerja seperti dulu. Sebelumnya ia pernah bekerja sebagai buruh batu bara. Sementara untuk sekarang ia hanya bekerja sebagai penggembala kambing milik pemilik lahan yang ia jadikan tempat hidup saat ini.
Sang istri pun kini juga tak lagi bekerja. Hal tersebut dikarenakan kondisi tangan Sulatri yang sakit. Sehingga ia hanya di rumah, sekaligus menjaga cucu-cucunya.
Melihat kondisi Kakek Mareng dan keluarganya, mungkin saat ini yang dibutuhkan hanyalah mata terbuka dari pemerintah serta memberikan sedikit hak dari mereka.
Dan untuk teman-teman yang lain, jika ingin membantu, silahkan mengunjungi langsung kediaman kakek Mareng. Mari kita saling bahu-membahu untuk saudara kita yang sedang merasakan kepedihan dalam menjalani kehidupan. (Dev)
























