Ekonomi Rakyat Menyala dari Timur Selayar: BumDes Jadi Ujung Tombak?
KEPULAUAN SELAYAR – Dari pelosok timur Kepulauan Selayar, semangat kemandirian desa terus bergelora. Desa Garaupa Raya, yang terletak di Kecamatan Pasilambena, menjadi bukti nyata bahwa keterpencilan bukanlah halangan untuk membangun. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BumDes), desa di pulau terluar ini berhasil menggali potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru.
Dengan akses yang terbatas dan tantangan geografis yang cukup ekstrem, BumDes Garaupa Raya justru tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi desa. Salah satu sektor unggulannya adalah pengelolaan hasil laut seperti ikan, yang selama ini menjadi tulang punggung masyarakat. Potensi ini kini dikembangkan menjadi komoditas bernilai jual tinggi yang mampu menembus pasar luar pulau.
Tak berhenti di sektor kelautan, BumDes juga mulai merintis usaha peternakan ayam petelur sebagai solusi atas mahalnya biaya pengadaan bahan pangan dari luar. Usaha ini tidak hanya menekan harga kebutuhan pokok, tapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga, khususnya generasi muda desa.
Chua Aswar Koordinator Kecamatan TPP P3MD Kecamatan Pasilambena, menyampaikan bahwa keberadaan BumDes bukan sekadar unit usaha, tapi menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan desa.
“Kami ingin membuktikan bahwa meskipun berada di pulau terluar, kami bisa mandiri dan berkembang. BumDes adalah jalan menuju kemandirian itu,” ujarnya.
Gerakan ekonomi kerakyatan ini juga menggeliat di desa-desa tetangga. Di Desa Lembang Matene, BumDes mengelola usaha ayam petelur dan mengembangkan jagung kuning di lahan seluas 5,5 hektar. Desa Garaupa Raya sendiri menanam jagung kuning di 4 hektar lahan. Sementara itu, Desa Kalaotoa menjalankan usaha ayam petelur jenis KUB dan menanam jagung kuning di area seluas 3 hektar.
Tak kalah menarik, Desa Pulo Madu fokus pada peternakan kambing Benggala dan penanaman jagung kuning seluas 1 hektar. Adapun Desa Karumpa sedang dalam proses restrukturisasi kepengurusan BumDes untuk memulai kembali langkah pemberdayaan ekonominya.
Dengan kolaborasi antara Kepala Desa, pendamping desa, pemerintah daerah, dan semangat masyarakat, kawasan pulau terluar ini membuktikan bahwa membangun dari pinggiran bukan sekadar slogan. Justru dari tempat yang jauh dari pusat, lahir model pembangunan yang berbasis potensi lokal dan gotong royong.
Desa-desa di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) kini punya alasan untuk optimis, karena dari pulau terjauh pun, perubahan besar bisa dimulai.
























