Ketika Pebecak Lansia Menangis Menerima Becak Listrik Negara
BUKABACA.co.id, TALUNGAGUNG – Tangis haru hampir selalu menyertai setiap penyerahan becak listrik kepada para pebecak lansia. Pemandangan itu telah berulang ratusan, bahkan ribuan kali disaksikan Nanik Deyang, Wakil Ketua Umum Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN).
“Entah sudah berapa ratus atau mungkin ribu kali saya melihat genangan air mata, bahkan kadang mengalir deras, dari para pebecak lansia setiap kali kami menyerahkan becak listrik bantuan Pak Prabowo,” ujar Nanik.
Becak listrik tersebut merupakan bantuan Presiden Prabowo Subianto yang disalurkan melalui YGSN sejak tahun 2024, jauh sebelum Prabowo menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Hingga awal 2026, sekitar 6.000 becak listrik telah dibagikan kepada para pebecak lansia di berbagai daerah di Indonesia. Seluruh becak itu merupakan produk dalam negeri, hasil produksi PT LEN dan PT Pindad.
Bagi para penerima, bantuan itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol perubahan hidup. Selama puluhan tahun bekerja, sebagian besar dari mereka tidak pernah memiliki aset berharga. Bahkan becak yang mereka kayuh setiap hari pun bukan milik sendiri, melainkan milik para pemilik modal atau taoke yang harus disewa dengan biaya Rp3.000 hingga Rp10.000 per hari.
“Air mata mereka adalah air mata haru. Untuk pertama kalinya dalam hidup, mereka memiliki sesuatu yang benar-benar milik sendiri,” kata Nanik.
Momen penuh emosi kembali terjadi pada Sabtu, 10 Januari 2026, saat YGSN menyerahkan 200 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Para pebecak lansia tampak tak percaya ketika menerima becak listrik senilai sekitar Rp22 juta per unit.
Banyak di antara mereka terdiam, menggenggam setang becak sambil menitikkan air mata. Bagi para pebecak itu, bantuan tersebut terasa seperti mimpi yang menjadi nyata, sebuah harapan baru di usia senja, setelah bertahun-tahun mengayuh hidup dengan keterbatasan.
Program becak listrik ini menjadi bukti nyata perhatian negara terhadap para pekerja informal lansia, yang selama ini luput dari sorotan, namun tetap setia mencari nafkah dengan tenaga yang kian menua.
























