Amukan di Paving Blok Takalar yang Mengiris Hati

Amukan di Paving Blok Takalar yang Mengiris Hati (foto/tangkapan layar).

BUKABACA.co.id, TAKALAR – Sebuah rekaman amatir berdurasi singkat mendadak memicu kegaduhan di jagat maya. Di atas jalanan beralas paving blok sebuah pemukiman di Takalar, Sulawesi Selatan, sebuah drama kekerasan domestik tersaji telanjang. Bukan sekadar adu mulut, video tersebut merekam bagaimana emosi yang meluap mampu melumpuhkan akal sehat, bahkan di depan mata seorang balita yang tak berdosa.

Dalam video yang beredar luas di platform Facebook tersebut, suasana tenang perumahan berubah mencekam. Seorang pria yang mengenakan kemeja motif loreng hijau tampak dikuasai amarah hebat. Lawannya adalah seorang wanita muda. Keduanya terlibat kontak fisik yang brutal saling dorong, tarik-menarik, hingga sang pria melayangkan tendangan ke arah wanita tersebut.

Upaya melerai dari dua pria lain di lokasi tampak sia-sia. Amuk sang pria tak terbendung, seolah-olah dunia hanya milik kemarahannya saat itu.

“Mereka sepertinya sudah menutup telinga dari imbauan tetangga,” ujar salah satu warga di kolom komentar unggahan tersebut.

Bagian paling memilukan dari rekaman ini bukanlah baku hantam antar-orang dewasa tersebut, melainkan sosok kecil yang berada di tengah pusaran konflik. Seorang bayi, yang diperkirakan berusia di bawah dua tahun, tampak digendong secara bergantian di tengah keributan.

Suara tangis melengking sang bocah membelah kebisingan makian. Dalam satu fragmen, terlihat sang balita sempat terombang-ambing saat orang-orang di sekitarnya saling tarik. Trauma psikis yang mungkin membekas pada sang anak menjadi sorotan tajam netizen.

Seorang wanita bercadar yang diduga kerabat atau tetangga akhirnya berhasil mengambil sang anak dari zona bahaya, meski ketegangan antara pria dan wanita tersebut belum juga mereda.

​Hingga laporan ini diturunkan, motif spesifik di balik pertengkaran hebat ini masih buram. Pengunggah video hanya memberikan keterangan singkat “masalah keluarga”. Namun, di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah dengan ikatan kekeluargaan yang kuat seperti Takalar, insiden yang meledak di ruang publik seperti ini biasanya menyimpan gunung es persoalan yang lebih besar.

Apakah ini terkait sengketa domestik, masalah ekonomi, atau akumulasi kekecewaan yang tak terkomunikasikan? Pihak kepolisian setempat diharapkan turun tangan untuk memastikan apakah ada unsur Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang perlu ditindaklanjuti secara hukum.

​Sosiolog melihat kejadian ini sebagai cermin rapuhnya ketahanan keluarga dan hilangnya rasa sungkan (siri’) dalam mengekspresikan kemarahan di ruang publik. Paving blok Takalar menjadi saksi betapa kekerasan masih dianggap sebagai jalan keluar, bahkan ketika buah hati menjadi taruhannya.

​Kini, bola panas ada di tangan aparat berwenang dan dinas perlindungan anak setempat. Menyelamatkan sang balita dari lingkungan yang toksik menjadi urgensi utama, di samping menyelesaikan akar konflik yang membuat pria dan wanita tersebut kalap di tengah jalan.

Redaksi BUKABACA.co.id
Kontributor: Takalar, Sulawesi Selatan.

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page