Jejak Pengabdian Bidan Desa Marfiani di Pulau Terpencil Selayar

Jejak Pengabdian Bidan Desa Marfiani di Pulau Terpencil Selayar.

BUKABACA.co.id, SELAYAR – Di pulau-pulau kecil yang dikepung laut dan keterbatasan, suara tangis bayi sering kali menjadi penanda kemenangan atas jarak, cuaca, dan risiko. Di sanalah Marfiani bekerja. Sejak 2009 hingga 2026, bidan berstatus aparatur sipil negara itu menjalani pengabdian panjang di wilayah kepulauan Kabupaten Kepulauan Selayar sebuah rentang waktu yang diisi ribuan persalinan, ratusan kasus kegawatdaruratan, dan keputusan-keputusan medis yang kerap harus diambil tanpa kemewahan fasilitas lengkap.

Jejak pengabdiannya bermula jauh dari Selayar. Pada 2003–2006, Marfiani menempuh pendidikan kebidanan di Akademi Kebidanan Pamenang, Pare, Kediri, Jawa Timur. Selama masa kuliah, ia telah terlibat langsung menolong sekitar 50 persalinan. Selepas wisuda, ia menjalani magang di Rumah Sakit Pare Kediri selama tiga bulan dan kembali menghadapi realitas ruang bersalin, sekitar 140 persalinan ditanganinya dalam waktu singkat.

Pengalaman lapangan kian terasah ketika ia bekerja di Makassar pada 2007–2009. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pertiwi serta Rumah Bersalin Sophiara, Marfiani menangani lebih dari 600 persalinan. Ruang-ruang medis itu memberinya bekal teknis, namun pengabdian sesungguhnya menunggu di tempat lain.

Tahun 2008, ia lulus sebagai CPNS di Selayar. Setahun kemudian, penempatan tugas membawanya ke Desa Rajuni wilayah kepulauan yang hanya bisa dijangkau dengan perahu dan bergantung penuh pada cuaca laut. Sejak 2009 hingga 2026, Marfiani bertugas di Rajuni Kecil. Dalam rentang itu, ia menolong sekitar 1.432 persalinan. Angka tersebut belum termasuk persalinan yang ia tangani di pulau-pulau lain, Jinato, Latondu, Tarupa Besar, Tarupa Kecil, dan Rajuni Besar.

Kasus yang dihadapinya jauh dari kata sederhana. Selama 17 tahun bertugas, ia menangani sekitar 253 kasus abortus dan 69 kasus manual plasenta, tindakan berisiko tinggi yang kerap harus dilakukan dengan peralatan terbatas.

Persalinan sungsang, kembar, melintang, ketuban pecah dini (KPD), hingga kondisi kegawatdaruratan lain menjadi bagian rutin pekerjaannya.

Namun ruang praktik Marfiani tak berhenti di persalinan. Ia juga menangani berbagai kasus darurat non-obstetri, anak dengan tempurung kepala pecah hingga ke dahi, kecelakaan kerja akibat mata terkena gerinda atau biji besi las, luka tusuk ikan, baling-baling perahu, hingga bayi dan anak-anak yang mengalami kejang. Operasi kecil seperti pengangkatan kista bawah kulit pun telah ia lakukan pada ratusan pasien, semua berangkat dari kebutuhan mendesak dan ketiadaan tenaga medis lain di lokasi.

Di tengah pengabdian lapangan, Marfiani tetap melanjutkan pendidikan. Pada 2021–2022, ia menempuh pendidikan Sarjana Kebidanan di STIKES Bakti Pertiwi Jakarta, dilanjutkan Program Profesi Kebidanan pada 2022–2023 di institusi yang sama. Pendidikan formal itu menjadi penopang ilmiah bagi pengalaman panjang yang telah ia jalani sebelumnya.

Bagi warga pulau, Marfiani bukan sekadar bidan. Ia adalah tempat pertama dan terakhir untuk berharap sebelum laut memutus akses ke rumah sakit rujukan. Dalam banyak kasus, keputusan harus diambil dalam hitungan menit, dengan risiko yang sepenuhnya disadari.

Pengabdian Marfiani mencerminkan wajah pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan, sunyi dari sorotan, sarat tanggung jawab, dan bertumpu pada keteguhan individu. Di balik statistik ribuan persalinan dan ratusan kasus kegawatdaruratan, ada satu benang merah yang terus terjaga komitmen untuk tetap hadir, meski jarak dan keterbatasan tak pernah benar-benar pergi.

Kepada BUKABACA.co.id, Kamis (15/1/2026), Bidan Marfiani menutup wawancara, menegaskan bahwa tugasnya di lapangan tak berhenti pada urusan persalinan. Dalam keterbatasan fasilitas, jaringan internet, dan jarak layanan kesehatan, ia kerap menangani kasus-kasus darurat lain, mulai dari perdarahan hebat hingga serangan stroke, serta berbagai kondisi medis yang menuntut penanganan cepat.

Bagi Marfiani, profesi bidan di wilayah terpencil berarti kesiapsiagaan penuh, bahkan di luar batas kewenangan ideal seorang tenaga kebidanan.

Artikel ini hanya tayang di portal media online www.bukabaca.co.id

Baca Lainnya

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page