Sinyal Bahaya dari Pintu Laut Pulau Selayar Indonesia

Ilustrasi (foto/recoverycenter).

BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Pagi itu, ombak di pesisir Kepulauan Selayar tak hanya membawa riak air asin. Di antara pasir dan serpihan kayu yang biasa disebut warga sebagai rampe barang yang terdampar karena arus laut terdapat paket mencurigakan. Setelah dibuka, isinya membuat aparat terhenyak sekitar 25 kilogram kokain.

Penemuan tersebut segera memantik tanda tanya besar. Bagaimana narkotika kelas satu yang identik dengan jaringan kartel internasional bisa sampai ke pesisir sebuah kabupaten kepulauan di Sulawesi Selatan? Bagi pemerhati NAPZA, Devi Zulkifli, peristiwa ini tidak bisa dipandang sebagai sekadar barang hanyut di laut.

“Temuan ini harus dibaca sebagai sinyal serius. Kokain bukan jenis narkotika yang umum beredar di pasar domestik Indonesia. Jika sampai ditemukan dalam jumlah besar di pesisir, besar kemungkinan ada jalur distribusi internasional yang melintasi perairan kita,” kata Devi kepada BUKABACA.co.id, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, karakter wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan menjadikan jalur laut sebagai salah satu titik rawan penyelundupan narkotika. Ribuan pulau dengan garis pantai yang panjang menciptakan celah pengawasan jika tidak ditopang sistem pemantauan maritim yang kuat.

Dalam sejumlah kasus sebelumnya, penyelundupan narkotika kerap dilakukan dengan berbagai modus dari kapal pengangkut barang, perahu nelayan, hingga metode drop at sea barang dibuang di titik tertentu di laut untuk kemudian diambil oleh pihak lain.

Temuan di Selayar memunculkan dugaan serupa. Paket kokain yang terdampar bisa jadi bagian dari rantai distribusi yang terputus di tengah laut entah karena cuaca, kesalahan koordinat, atau upaya menghindari patroli aparat.

“Yang harus ditelusuri bukan hanya dari mana barang ini berasal, tetapi juga ke mana sebenarnya tujuan akhirnya. Itu berarti penegakan hukum tidak boleh berhenti pada penemuan barang, tetapi harus menelusuri jaringannya,” ujar Devi.

Ia juga menilai kasus ini menjadi alarm bagi sistem pengawasan wilayah pesisir. Banyak daerah kepulauan yang secara geografis berada di jalur pelayaran internasional, namun memiliki keterbatasan dalam pengawasan laut.

Karena itu, ia mendorong adanya koordinasi yang lebih kuat antara lembaga penegak hukum mulai dari BNN, TNI AL, Polairud, hingga otoritas maritim lainnya untuk memperkuat deteksi dini terhadap aktivitas penyelundupan narkotika.

Di sisi lain, masyarakat pesisir dinilai memiliki peran penting. Nelayan dan warga yang setiap hari berinteraksi dengan laut sering kali menjadi pihak pertama yang menemukan barang mencurigakan.

“Partisipasi masyarakat pesisir sangat penting sebagai sistem kewaspadaan dini. Tanpa keterlibatan mereka, banyak kejadian seperti ini bisa saja tidak pernah terungkap,” kata Devi.

Temuan 25 kilogram kokain di Selayar mungkin hanya satu fragmen kecil dari cerita panjang perdagangan narkotika global. Namun bagi wilayah kepulauan seperti Indonesia, fragmen kecil itu cukup untuk menunjukkan satu hal, jalur laut tetap menjadi pintu yang rawan dimanfaatkan jaringan narkotika internasional.

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page