Artikel

terasBUKABACA dan Perlawanan Pelan Terhadap Layar Gawai

Kedai Kopi dan Tempat Nongkrong terasBUKABACA berlokasi di Jalan Hati Murni, No. 15, Benteng, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

BUKABACA.co.id, SELAYAR – Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalan yang tak kasatmata, tetapi dampaknya terasa di hampir setiap ruang kehidupan, krisis literasi. Ketika arus informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat memverifikasi kebenarannya, hoaks mudah menyebar, ruang diskusi menyempit, dan budaya membaca perlahan tergeser oleh budaya menggulir layar gawai.

Di tengah situasi itu, sebuah ruang sederhana di Kepulauan Selayar memilih mengambil jalan yang berbeda. Namanya terasBUKABACA, sebuah kedai kopi literasi yang memadukan secangkir kopi dan menu minuman menyegarkan dengan rak-rak buku, ruang diskusi, karya seni, serta jejak sejarah lokal.

Kedai ini lahir dari kegelisahan yang sederhana, tetapi mendasar, bagaimana mengembalikan minat baca masyarakat Selayar, terutama generasi muda, di tengah derasnya arus media sosial.

Penggagas terasBUKABACA, Nur Afandi, percaya bahwa budaya membaca tidak selalu tumbuh di perpustakaan atau ruang kelas. Ia juga dapat lahir di tempat yang santai, tempat orang berkumpul tanpa merasa sedang “belajar”. Karena itu, konsep yang diusung adalah ngopi sambil membaca buku, berdiskusi, hingga melukis sesuai imajinasi.

Literasi di tempat ini dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan mengeja kalimat. Membaca dipandang sebagai cara melatih daya pikir kritis agar masyarakat tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi. Di era banjir informasi, kemampuan membedakan fakta dan opini menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan membaca itu sendiri.

Kehadiran terasBUKABACA menjadi relevan ketika melihat kondisi literasi Indonesia. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan membaca pelajar Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD. Pada penilaian terakhir, Indonesia memperoleh skor membaca 359, menempatkannya di peringkat ke-69 dari 81 negara, sementara rata-rata OECD mencapai 487. Sekitar tiga dari empat siswa Indonesia belum mencapai tingkat kompetensi membaca minimum yang dibutuhkan untuk memahami teks secara kritis.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga budaya membaca. Data UNESCO selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di sisi lain, penggunaan telepon pintar dan media sosial meningkat tajam. Platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp menjadi sumber utama informasi bagi banyak orang, meskipun tidak semua informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi.

Fenomena itu menghadirkan tantangan baru. Masyarakat mengonsumsi informasi dalam jumlah besar, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menyaringnya. Akibatnya, hoaks, ujaran kebencian, dan disinformasi lebih mudah menyebar dibandingkan informasi yang telah teruji.

Di sinilah terasBUKABACA mencoba mengambil peran.

Suasana kedai dirancang bukan sekadar menjadi tempat menikmati kopi. Rak-rak buku disusun agar mudah dijangkau pengunjung. Kertas dan alat gambar tersedia bagi siapa saja yang ingin menuangkan gagasan melalui ilustrasi. Aktivitas membaca, berdiskusi, dan berkarya ditempatkan dalam satu ruang yang sama sehingga literasi hadir sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan kewajiban.

Yang menarik, identitas lokal menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep tersebut. Dinding kedai dipenuhi foto-foto Selayar tempo dulu yang merekam perjalanan daerah dari masa ke masa. Di sudut lain berdiri replika Gong Nekara, salah satu ikon sejarah dan kebudayaan Kepulauan Selayar.

Kehadiran simbol-simbol tersebut mengandung pesan bahwa literasi tidak hanya lahir dari buku, tetapi juga dari kemampuan membaca sejarah, budaya, dan identitas daerah sendiri. Generasi muda diajak memahami bahwa mengenal kampung halaman merupakan bagian dari proses membangun karakter dan kebanggaan terhadap daerah.

Sasaran utama gerakan ini adalah kalangan milenial dan Generasi Z Selayar. Mereka merupakan generasi yang lahir di tengah ledakan teknologi digital, ketika hampir setiap orang menjadi produsen sekaligus penyebar informasi. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, kecepatan informasi justru berpotensi melahirkan kebingungan.

Pemerintah sendiri telah menjadikan peningkatan literasi sebagai salah satu agenda penting reformasi pendidikan. Berbagai program digulirkan, mulai dari penguatan literasi membaca di sekolah, pengembangan perpustakaan, perpustakaan keliling, hingga pemanfaatan Dana Desa untuk mendukung budaya baca di berbagai wilayah. Berbagai penelitian akademik juga menunjukkan bahwa pembiasaan membaca sejak usia dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Namun, pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak cukup mengandalkan kebijakan pemerintah. Ia membutuhkan partisipasi masyarakat dan ruang-ruang alternatif yang mampu mendekatkan buku kepada publik.

TerasBUKABACA mencoba menjawab kebutuhan itu. Di tengah menjamurnya kedai kopi yang berlomba menawarkan desain estetik dan menu kekinian, tempat ini memilih menjadikan literasi sebagai identitas utamanya. Yang dijual bukan hanya secangkir kopi, melainkan kesempatan untuk berdialog, membaca, dan memahami dunia secara lebih utuh.

Perubahan besar memang sering kali lahir dari ruang-ruang kecil. Dari meja kayu sederhana, secangkir kopi hangat, lembar-lembar buku yang terus dibuka, hingga percakapan yang berlangsung tanpa sekat.

Barangkali, di sanalah masa depan literasi Indonesia mulai ditulis kembali, bukan dengan gegap gempita, melainkan melalui kebiasaan sederhana, duduk sejenak, menyeruput kopi, lalu membuka sebuah buku.

Ngopi bukan sekadar menikmati rasa, tapi juga merawat nalar. Datang dan rasakan pengalaman berbeda di terasBUKABACA, tempat kopi, buku, seni, dan sejarah bertemu dalam satu ruang. terasBUKABACA hadir di Jalan Hati Murni No. 15, Benteng (Lorong Belakang Toko Hijrah), Kabupaten Kepulauan Selayar. Jangan lupa ikuti media sosial @terasBUKABACA untuk informasi kegiatan dan promo terbaru.

Penulis: Erik Eranio
Redaktur BUKABACA.co.id

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page