Alarm Keselamatan Pelayaran di Selayar Kembali Berbunyi
BUKABACA.co.id, SELAYAR – Rapat Komisi III DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar, yang menghadirkan unsur perhubungan, syahbandar, hingga pelaku pelayaran, mengerucut pada satu kegelisahan bersama, keselamatan masih kerap dikalahkan oleh praktik di lapangan.
Di ruang rapat itu, suara-suara tentang komunikasi darurat, penggunaan kanal internasional, hingga ketidaksinkronan data penumpang mencuat. Kanal 16 frekuensi darurat maritim diakui masih menjadi andalan. Namun, disiplin penggunaannya dinilai belum seragam. Di saat yang sama, sistem pelacakan seperti AIS disebut belum sepenuhnya terintegrasi di semua kapal yang beroperasi di lintasan Selayar.
Masalah yang lebih mendasar justru terletak pada data penumpang. Sejumlah peserta rapat menyinggung praktik manifest yang kerap tak mencerminkan jumlah riil di atas kapal. Ada penumpang yang baru dicatat setelah tiket diperoleh, bahkan ada yang tak tercatat sama sekali. Dalam situasi normal, ini mungkin sekadar pelanggaran administrasi. Namun di tengah laut, ini bisa menjadi soal hidup dan mati.
“Muatan hanya 40–45 orang, tidak boleh lebih,” demikian penegasan yang kembali diulang pihak syahbandar. Tapi di lapangan, batas itu kerap lentur. Tekanan kebutuhan, budaya “titip nama”, hingga lemahnya pengawasan membuat angka di atas kertas dan kenyataan di geladak tak selalu sejalan.
Ketua Komisi III DPRD Selayar, H. Andi Idris, menilai persoalan ini bukan semata soal aturan, melainkan mentalitas dan edukasi. Ia menekankan pentingnya pertemuan rutin lintas instansi perhubungan, pemerintah daerah, operator kapal untuk membangun kesadaran kolektif tentang keselamatan.
“Ini bukan hanya soal pendapatan atau kuota. Ini soal nyawa,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Dalam rapat itu pula, mencuat usulan penambahan armada penyelamatan. Permintaan menghadirkan kapal Basarnas yang siaga di Selayar akan dibawa ke pembahasan Badan Anggaran DPRD.
Rapat berakhir tanpa tepuk tangan. Yang tersisa adalah catatan panjang tentang celah yang belum tertutup, dari komunikasi darurat, data penumpang, hingga kapasitas pengawasan. Di wilayah kepulauan seperti Selayar, laut bukan sekadar penghubung ia juga pengingat bahwa kelalaian kecil bisa berujung besar.























Tinggalkan Balasan