News

Cinta Terakhir Sang Kakek di Laut Selayar

Potret seorang kakek serahkan pelampung ke cucu sebelum KM Nurul Salsa tenggelam. (dok/tiktok@Lhyna Wijaya)

BUKABACA.co.id, SELAYAR – Di tengah upaya pencarian yang masih terus dilakukan di perairan barat Pulau Polassi, Selayar, tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa bukan hanya menyisakan daftar korban yang belum ditemukan. Musibah yang terjadi pada Rabu (15/7/2026) itu juga meninggalkan kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh hati, tentang keberanian, pengorbanan, dan kasih sayang yang tetap menyala di tengah amukan ombak laut.

Salah satu kisah yang paling membekas datang dari seorang penyintas bernama Munawir alias Nawir (51). Di balik perjuangannya bertahan hidup, ia menjadi saksi momen terakhir seorang kakek yang memilih menyerahkan kesempatan hidupnya demi keselamatan sang cucu.

Menurut kesaksian Munawir, perjalanan KM Nurul Salsa awalnya berlangsung normal saat bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar.

Namun di tengah pelayaran, kapal mengalami gangguan mesin ketika berada sekitar 43 mil laut dari tujuan. Gangguan tersebut membuat kapal terombang-ambing selama beberapa jam di tengah cuaca yang terus memburuk sebelum akhirnya tenggelam diterjang gelombang tinggi.

Kronologi tersebut juga telah dikonfirmasi Basarnas dan berbagai laporan resmi terkait operasi pencarian dan penyelamatan.

Saat mesin kapal pertama kali mati, awak kapal meminta seluruh penumpang mengenakan jaket pelampung. Kala itu situasi belum sepenuhnya mencekam. Sebagian besar penumpang masih percaya kapal dapat kembali berlayar setelah kerusakan berhasil diperbaiki.

Harapan itu perlahan pupus ketika mesin tak kunjung hidup. Gelombang semakin besar menghantam badan kapal yang kehilangan kendali. Air laut mulai masuk, sementara kepanikan mulai menyelimuti seluruh penumpang.

Di tengah situasi itulah Munawir memperhatikan seorang anak perempuan bernama Naurah yang berada bersama kakek dan neneknya. Tanpa banyak kata, sang kakek mengambil keputusan yang kelak menjadi simbol cinta tanpa syarat.

Jaket pelampung terakhir dipasangkannya kepada sang cucu. Ia sendiri tetap berdiri tanpa mengenakan pelampung.

“Naurah ini sama kakek dan neneknya. Saat kapal tenggelam, neneknya berada di kelompok kapten kapal. Kalau kakeknya sama Naurah,” kenang Munawir saat menceritakan detik-detik sebelum kapal karam.

Tak lama kemudian, ombak besar kembali menghantam lambung kapal hingga akhirnya KM Nurul Salsa tenggelam. Para penumpang terpental ke laut, berusaha bertahan di tengah gulungan ombak yang terus menggila.

Munawir melihat sang kakek ikut terseret ke dalam laut. Sementara Naurah, yang mengenakan pelampung pemberian kakeknya, hanyut menjauh mengikuti arus.

“Kakek Naurah pas kapal tenggelam dia juga ikut tenggelam,” ujarnya lirih.

Di tengah lautan yang mulai gelap, Munawir mendengar suara tangisan dan teriakan seorang anak yang memanggil-manggil kakeknya. Tanpa berpikir panjang, ia berenang mendekati sumber suara tersebut.

Ia menemukan Naurah yang masih mengapung dengan pelampung, namun semakin jauh dari sebuah potongan gabus yang terapung di permukaan laut. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Munawir mengangkat tubuh Naurah ke atas gabus agar peluangnya untuk bertahan hidup lebih besar.

“Naurah dia cari kakeknya, karena kakeknya itu ketika kapal tenggelam dia juga ikut turun. Naurah ini jauh dari gabus,” tutur Munawir.

Kesaksian penyintas itu memperlihatkan bahwa di tengah kepanikan dan ancaman maut, naluri seorang kakek adalah memastikan cucunya memiliki kesempatan hidup lebih besar.

Foto yang beredar luas di media sosial bahkan memperlihatkan Naurah mengenakan pelampung berwarna oranye, sementara sang kakek, Umar (80), hanya memakai jaket biasa tanpa alat keselamatan.

Potret tersebut kemudian menjadi simbol pengorbanan seorang kakek yang rela mempertaruhkan nyawanya demi sang cucu.

Tragedi KM Nurul Salsa sendiri menjadi salah satu kecelakaan laut yang menyita perhatian publik. Kapal yang berlayar dari Pulau Jampea menuju Benteng Selayar dilaporkan mengalami mati mesin sebelum akhirnya karam akibat gelombang tinggi.

Operasi pencarian melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta puluhan nelayan yang ikut menyisir perairan Selayar untuk mencari para korban yang masih hilang.

Di balik angka-angka korban dan laporan operasi SAR, tersimpan kisah tentang kasih sayang yang tak dapat diukur oleh apa pun.

Sebuah pelampung terakhir yang diberikan seorang kakek kepada cucunya menjadi pengingat bahwa dalam situasi paling genting sekalipun, cinta keluarga mampu mengalahkan naluri menyelamatkan diri sendiri.

Hingga kini, harapan keluarga korban masih bergantung pada kerja keras tim SAR yang terus menyisir lautan, sembari menyimpan doa agar mereka yang belum ditemukan dapat segera dipulangkan kepada orang-orang tercinta. (*)

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page