Gagasan Patungan untuk Konservasi Mengemuka
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Hutan terbakar, pohon tumbang, dan asap kembali memenuhi langit. Berita tentang kerusakan lingkungan datang silih berganti.
Sebuah gagasan yang diunggah oleh pemilik akun isntagram @Irwandiferri bernama “Patungan untuk Hutan”, Kamis (3/9/2026), menawarkan jalan lain. Masyarakat diajak terlibat langsung, bukan hanya sebagai penonton yang menyaksikan hutan rusak, tetapi ikut mengambil bagian dalam upaya menjaganya.
Gagasan itu berangkat dari kenyataan bahwa konservasi membutuhkan biaya. Tidak cukup dengan slogan, seremoni penanaman pohon, atau kampanye yang ramai di media sosial. Hutan membutuhkan pengelolaan jangka panjang, riset, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dalam penjelasan yang beredar, kebutuhan dana untuk program di Flores disebut mencapai Rp9 miliar. Angka itu besar, tetapi sesungguhnya membuka satu persoalan yang lebih besar menjaga alam selalu membutuhkan sumber daya, sementara kerusakan sering kali terjadi jauh lebih cepat daripada upaya pemulihannya.
“Di sinilah konsep Patungan untuk Hutan menemukan relevansinya,” ujar Irwandiferri.
Kata dia, dana bukan semata-mata tujuan. Ia menjadi alat untuk membangun sistem, menjaga kawasan, melibatkan masyarakat, mencegah kebakaran, dan memastikan pohon yang ditanam tidak hanya menjadi angka dalam laporan.
Gagasan tersebut juga seperti hendak menyampaikan satu pesan sederhana, hutan terlalu luas untuk dijaga sendirian.
“Negara memiliki peran. Korporasi memiliki tanggung jawab. Namun masyarakat pun dapat menjadi bagian dari gerakan, sekecil apa pun kontribusinya,” pintanya.
Sebab, ungkap Irwandiferri, ketika api datang, batas antara hutan milik siapa dan tanggung jawab siapa menjadi semakin kabur. Asap tidak memilih rumah yang akan dimasukinya. Krisis iklim pun tidak mengenal batas administrasi.
“Mungkin karena itu, menjaga hutan tidak lagi cukup dengan bertanya, “Siapa yang bertanggung jawab?,” pungkasnya.
Pertanyaannya “Apa yang bisa kita lakukan bersama?”. “Dan barangkali, dari sebuah patungan, lahir cara baru untuk memastikan hutan tidak hanya menjadi cerita tentang apa yang pernah kita miliki,” Irwandiferri memungkasi. (ar/erk)























