Masih Ingat Nanik Deyang, Eks Kepala BGN? Kini Sibuk Salurkan Becak Listrik
BUKABACA.co.id, JAKARTA – Nanik S. Deyang kembali terlihat dalam kegiatan publik setelah meninggalkan jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Juli 2026. Kali ini, aktivitasnya bukan berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan penyaluran becak listrik bagi para pengayuh becak, terutama kelompok lanjut usia.
Terbaru, Nanik hadir dalam penyerahan 300 unit becak listrik di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada 13 September 2026. Pemerintah Kabupaten Majalengka mencatat Nanik sebagai Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN) sekaligus perwakilan penyalur bantuan tersebut.
Dalam kegiatan itu, Nanik meminta penerima memanfaatkan becak listrik sesuai tujuan pemberian bantuan. Ia mengingatkan agar kendaraan tersebut tidak diperjualbelikan.
Program becak listrik itu disebut telah menjangkau lebih dari 12 ribu unit di berbagai daerah. Di Majalengka, sebanyak 300 unit diberikan kepada pengayuh becak, terutama mereka yang telah lanjut usia. Menurut keterangan BAZNAS Majalengka, program tersebut masih berlanjut dengan pesanan sekitar 70 ribu unit pada 2026.
Aktivitas Nanik di program becak listrik sebenarnya bukan perkara baru. Sebelum meninggalkan BGN, ia telah terlibat dalam penyaluran bantuan tersebut melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional.
Pada Februari 2026, misalnya, Nanik disebut sebagai Wakil Ketua Umum Yayasan GSN saat penyaluran becak listrik di Ponorogo. Ketika itu, ia mengatakan program tersebut menyasar para pengayuh becak lanjut usia. Jumlah becak listrik yang telah disalurkan disebut mencapai 11.540 unit, sementara Presiden Prabowo disebut telah memesan tambahan sekitar 70 ribu unit.
Dengan demikian, keterlibatan Nanik dalam program becak listrik bukan aktivitas yang baru muncul setelah ia meninggalkan pemerintahan. Program tersebut telah menjadi salah satu kegiatan yang ia jalankan ketika masih berada di lingkungan BGN.
Nanik sempat menduduki posisi Kepala BGN setelah Presiden Prabowo Subianto melantiknya pada 8 Juni 2026. Ia menggantikan Dadan Hindayana yang sebelumnya dicopot dari jabatan tersebut.
Pelantikan Nanik didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 18/M Tahun 2026. Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga melantik Agustina Arumsari dan Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN.
Pergantian pimpinan BGN terjadi setelah Kejaksaan Agung menetapkan Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola program MBG periode 2025-2026 pada 3 Juni 2026. Ketiganya kemudian ditahan.
Namun, masa Nanik sebagai Kepala BGN berlangsung singkat. Pada 22 Juli 2026, ia menyampaikan pengunduran diri setelah berpamitan kepada Presiden Prabowo.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Dirgayuza Setiawan membenarkan keputusan tersebut. Nanik mundur untuk menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
Dengan begitu, Nanik hanya sekitar satu setengah bulan berada di kursi Kepala BGN sejak dilantik pada 8 Juni hingga menyatakan mundur pada 22 Juli.
Sebelum masuk ke pemerintahan, Nanik dikenal memiliki latar belakang di dunia jurnalistik dan aktivitas sosial. Sejumlah profil menyebut ia pernah bekerja sebagai wartawan sebelum kemudian terlibat dalam pengelolaan media dan berbagai kegiatan sosial.
Pendidikan Nanik juga berasal dari bidang yang berbeda. Ia merupakan lulusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan melanjutkan pendidikan S2 Kehutanan di Universitas Gadjah Mada.
Kariernya kemudian membawanya ke BGN. Pada 2025, Nanik dilantik sebagai Wakil Kepala BGN. Setahun kemudian, ia naik menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
Kini, setelah meninggalkan jabatan tersebut, Nanik kembali terlihat dalam aktivitas sosial melalui program becak listrik.
Penyaluran bantuan itu masih akan berlangsung. Dengan target pengadaan puluhan ribu unit sepanjang 2026, tantangan program bukan hanya memastikan kendaraan sampai kepada penerima, tetapi juga memastikan bantuan digunakan sesuai tujuan.
Di Majalengka, pesan Nanik kepada penerima becak listrik kembali menegaskan hal tersebut: kendaraan bantuan itu bukan barang untuk diperjualbelikan, melainkan sarana yang diharapkan dapat membantu para pengayuh becak, khususnya mereka yang telah lanjut usia, tetap mencari penghasilan dengan beban fisik yang lebih ringan.























