Mentan Amran Kumpulkan 44 Bupati Subuh-Subuh, Ada Apa?
BUKABACA.co.id, JAKARTA – Jam belum menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah memimpin rapat. Senin, 21 September 2026, ia mengumpulkan 44 bupati untuk membahas persiapan program pengembangan bioetanol.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ikut bergabung melalui konferensi video. Ia menyebut pertemuan itu sebagai rapat paling pagi yang pernah diikutinya selama dua tahun menjabat.
“Ini sejarah bagi saya, rapat paling pagi yang saya ikuti selama dua tahun,” kata Prasetyo.
Ritme kerja pagi buta, menurut Amran, bukan hal baru di Kementerian Pertanian. Ia mengatakan jajaran kementeriannya terbiasa bekerja sejak dini hari untuk mengejar berbagai agenda strategis pemerintah.
“Maaf, kami terbiasa rapat dari dini hari, bahkan tidak ada tanggal merah untuk Kementan,” ujar Amran.
Kali ini pembahasannya adalah bioetanol. Setelah pemerintah mendorong swasembada sejumlah komoditas pangan dan pengembangan biodiesel, Amran mengatakan perhatian pemerintah mulai diarahkan pada bioetanol, termasuk rencana bahan bakar campuran bensin E20.
“Pangan selesai, sudah delapan komoditas kita swasembada, bahkan ekspor. Biodiesel selesai, tidak impor. Sekarang kita masuk ke bioetanol E20,” kata dia.
Pemerintah melihat tebu, singkong, dan jagung sebagai sejumlah bahan baku potensial. Pengembangannya akan disesuaikan dengan agroklimat, keunggulan komparatif, serta karakter daerah.
Tebu menjadi salah satu komoditas yang disiapkan. Amran mencontohkan Brasil yang dapat mengarahkan hasil tebu menjadi gula atau etanol mengikuti kondisi harga dan kebutuhan pasar.
“Kalau harga tinggi jadikan gula, kalau rendah jual etanol,” ujarnya.
Untuk mendukung implementasi E20 hingga 2029, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 5,53 juta kiloliter. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan industri pengolahan untuk menopang pasokan.
Namun Amran menekankan program tersebut tidak boleh hanya menguntungkan industri. Ia meminta keterlibatan masyarakat diperbesar melalui skema kemitraan.
“Ini tidak boleh monopoli. Minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati,” kata Amran.
Menurut dia, kepastian pasar dan harga menjadi kunci meningkatkan kesejahteraan petani. Petani, kata Amran, mampu mendukung agenda pemerintah jika memperoleh harga yang menguntungkan.
“Mudah membuat sejahtera petani. Caranya buat harga menguntungkan,” ujarnya.
Amran kemudian meminta para bupati menyiapkan lahan dan menyesuaikan pengembangan bahan baku dengan potensi masing-masing wilayah.
“Tanpa bupati tidak mungkin kita bisa bergerak banyak,” kata dia.
Rapat yang dimulai ketika sebagian besar aktivitas pemerintahan belum berlangsung itu menjadi bagian dari persiapan pemerintah mengembangkan bioetanol sekaligus memperluas sumber energi berbasis komoditas pertanian.























