Belajar Menghargai Orang Lain Lagi
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern dari ruang rapat berpendingin udara hingga linimasa media sosial yang panas menghargai orang lain terdengar seperti petuah kuno yang kerap diulang, tapi jarang dipraktikkan. Ia dielu-elukan dalam seminar motivasi, namun sering tersungkur dalam percakapan sehari-hari.
Menghargai orang lain sejatinya bukan perkara etika belaka. Ia adalah cermin nilai diri dan fondasi relasi sosial yang sehat. Tanpanya, hubungan mudah retak, dialog berubah jadi monolog, dan perbedaan pendapat menjelma ajang saling meniadakan.
Ironisnya, di tengah kampanye toleransi dan inklusivitas yang gencar, praktik paling mendasar mendengarkan orang lain berbicara sampai tuntas justru menjadi barang langka. Banyak yang lebih sibuk menunggu giliran bicara ketimbang memahami isi pembicaraan.
Menghargai orang lain tak selalu menuntut gestur besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang kerap diremehkan.
Ucapan terima kasih, misalnya. Dua kata sederhana ini sering absen, seolah bantuan orang lain adalah kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Padahal, di situlah pengakuan atas waktu, tenaga, dan niat baik seseorang diuji.
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh juga menjadi ujian berikutnya. Bukan sambil memeriksa ponsel, bukan pula dengan menyela demi menunjukkan bahwa kita “lebih tahu”. Mendengar adalah bentuk penghargaan paling jujur dan paling sulit.
Begitu pula pujian yang tulus. Di masyarakat yang pelit mengapresiasi namun royal mengkritik, pujian sering dicurigai sebagai basa-basi. Padahal, pengakuan atas usaha orang lain dapat memperkuat kepercayaan diri dan mempererat relasi.
Menghargai berarti bersedia hidup berdampingan dengan perbedaan pandangan, kebiasaan, latar belakang. Selama tak melanggar hukum dan norma, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan realitas sosial yang tak terelakkan.
Namun, kecenderungan menghakimi masih kuat. Satu kesalahan kerap dijadikan vonis seumur hidup. Penampilan luar dijadikan ukuran nilai seseorang. Dalam iklim seperti ini, sikap tidak meremehkan menjadi bentuk penghargaan yang paling revolusioner.
Menghormati privasi pun tak kalah penting. Meminta izin sebelum menggunakan barang atau menyebarkan informasi pribadi seharusnya menjadi refleks, bukan pengecualian. Sayangnya, batasan sering kabur, terutama di era digital yang gemar membagikan segalanya.
Sikap saling menghargai menciptakan suasana harmonis di rumah, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik. Ia menumbuhkan rasa percaya, empati, dan kerja sama. Hubungan pun bertahan lebih lama, lebih sehat, dan lebih manusiawi.
Dampaknya tak hanya sosial, tapi juga psikologis. Hubungan yang sehat berkontribusi pada kesehatan mental, mengurangi stres, meningkatkan rasa aman, dan menumbuhkan kebahagiaan.
Namun, menghargai bukan berarti meniadakan diri sendiri. Ada batas yang perlu dijaga agar penghargaan tidak berubah menjadi pengorbanan berlebihan. Menjadi people pleaser bukan tanda empati, melainkan alarm kelelahan emosional.
Menjaga keseimbangan antara menghargai orang lain dan merawat diri sendiri adalah kunci. Ketika batas itu kabur dan kelelahan mulai terasa, mencari bantuan profesional psikolog atau tenaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk penghargaan pada diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan hanya diukur dari seberapa keras ia berbicara, tetapi dari seberapa sungguh ia mendengarkan.
Penulis: dr. Marianti
























