Di Bawah Api Renungan, Janji Polri Digaungkan

Kapolri memimpin Renungan Ksatria Bhayangkara dengan latar ribuan obor di Cikeas. (bukabaca.co.id/Ist)

BUKABACA.co.id, BOGOR – Nyala obor membakar gelap malam di Cikeas. Cahaya itu memantul di wajah ratusan perwira berseragam cokelat yang berdiri membisu, tersusun rapi. Di tengah suasana yang dikoreografikan khidmat itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melangkah ke podium. Ia memimpin sebuah ikrar yang oleh institusi disebut sebagai kompas moral namun oleh publik dibaca sebagai janji yang kembali diuji.

Prosesi Renungan Nilai-Nilai Ksatria Bhayangkara ditempatkan sebagai jantung simbolik Apel Kasatwil 2025. Digelar di Markas Satuan Latihan Korbrimob Polri, Cikeas, Kabupaten Bogor, acara ini mengumpulkan hampir seluruh pucuk pimpinan operasional Polri, dari Pejabat Utama Mabes Polri, para Kapolda, Karo Ops, hingga Kapolres dari berbagai daerah. Lebih dari 600 perwira hadir lengkap, utuh, dan patuh pada formasi.

Renungan berlangsung dalam pencahayaan minim, dengan ribuan obor mengelilingi area upacara. Para peserta membentuk lima lingkaran konsentris mengitari api unggun utama. Lingkaran terdalam diisi elite Mabes Polri dan para Kapolda, sementara lapisan berikutnya ditempati pejabat operasional hingga ratusan Kapolres. Polri menyebutnya simbol soliditas. Bagi pengamat, susunan itu justru mencerminkan struktur hierarki yang tak pernah benar-benar longgar.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan Ikrar Ksatria Bhayangkara oleh Kapolri. Ikrar ini diposisikan sebagai komitmen moral untuk memperkuat transformasi Polri istilah yang berulang kali digaungkan sejak gelombang kritik publik atas kasus kekerasan aparat, penyalahgunaan kewenangan, dan krisis kepercayaan yang belum sepenuhnya pulih.

“Dengan memohon ridha Tuhan Yang Maha Esa, di bawah panji Merah Putih, di hadapan api perjuangan rakyat Indonesia, kami, Ksatria Bhayangkara, berikrar membangun Polri yang melindungi, melayani, mengayomi, serta dicintai dan dipercaya masyarakat,” ucap Listyo dengan suara lantang dikutip bukabaca.co.id dari tribratanews, Rabu (26/1/2026).

Ikrar itu diikuti serempak oleh seluruh peserta. Gema suara kolektif memenuhi area renungan, menghadirkan kesan kesatuan tekad. Kapolri menyebut ikrar tersebut sebagai kompas moral bagi institusi untuk memperkuat integritas dan pelayanan publik.

Dalam penutupnya, Kapolri menegaskan loyalitas korps, “Demi seluruh rakyat Indonesia, demi kehormatan Kepolisian Negara Republik Indonesia, kami berjanji setia pada ikrar kami. Kami tegak, kami siap, kami setia”.

Renungan turut disertai tayangan visual sejarah Komjen Pol (P) M. Jasin figur pendiri kepolisian nasional yang diproyeksikan ke layar LED. Sosok ini dihadirkan sebagai simbol keberanian moral dan keteguhan prinsip. Sebuah pengingat tentang nilai ideal kepolisian, yang ironisnya justru sering dipertanyakan relevansinya dalam praktik hari ini.

Acara ditutup dengan Kapolri menyalami satu per satu jajaran pimpinan. Sebuah gestur solidaritas internal yang rapi dan penuh simbol. Namun di luar lingkar api unggun, publik tak lagi menunggu seremoni. Yang ditagih adalah keberanian membongkar masalah di tubuh sendiri, penindakan tegas tanpa pandang jabatan, serta perubahan nyata dalam cara Polri berhadapan dengan warga.

Renungan Nilai-Nilai Ksatria Bhayangkara kembali menyalakan narasi perubahan. Tapi sejarah menunjukkan, api simbolik mudah dinyalakan dan cepat padam. Ujian sesungguhnya bagi Polri dimulai setelah obor dipadamkan, ketika ikrar diuji bukan oleh tepuk tangan internal, melainkan oleh keadilan yang dirasakan masyarakat.

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page