Eksperimen AI Seorang Mantan Bupati
BUKABACA.co.id, GOWA – Sebuah video berdurasi singkat yang diunggah Adnan Purichta Ichsan mendadak menyedot perhatian publik. Bukan karena keputusan politik atau pernyataan kebijakan strategis, melainkan karena satu hal yang lebih ringan namun sarat makna, visual hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam video itu, mantan Bupati Gowa dua periode tersebut tampil dengan ekspresi jenaka, gestur tak lazim bagi seorang pejabat publik, dan gaya komunikasi yang terasa akrab. Adnan yang juga pernah duduk sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan seolah keluar dari bingkai formalitas birokrasi dan masuk ke ruang hiburan digital yang tengah digandrungi generasi muda.
Sekilas, unggahan itu tampak sebagai konten akhir pekan biasa. Namun, menyimpan pesan yang lebih terstruktur. Melalui keterangan singkat bertuliskan “Selamat berakhir pekan yah, harus tetap produktif…”, Adnan menyisipkan upaya membangun citra politik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan selera audiens digital.
Respons Publik yang Terbelah
Reaksi warganet terhadap unggahan ini terbelah. Di satu sisi, muncul pujian bernada ringan. Sejumlah komentar menilai langkah Adnan sebagai bentuk kedekatan emosional dengan publik. Akun e_maronie, misalnya, menulis, “AI = Adnan Ini.” Komentar tersebut dibalas langsung oleh Adnan dengan gaya santai sebuah interaksi yang memperkuat kesan keterbukaan dan kehadiran langsung pejabat di ruang digital.
Namun, tidak semua respons bernada positif. Kritik halus juga bermunculan. Akun mimyalim menulis, “Jauhkan dia dari tren TikTok + AI tolong,” disertai emoji menangis. Komentar itu mencerminkan kekhawatiran sebagian publik terhadap kecenderungan pejabat yang dianggap terlalu larut dalam tren visual, sementara substansi kepemimpinan berisiko terpinggirkan.
Penggunaan AI dalam komunikasi politik Adnan menandai pergeseran pola relasi antara pemimpin dan publik. Teknologi ini memungkinkan seorang pejabat tampil lebih “manusiawi”, tidak kaku, dan terasa dekat. Dalam terminologi pemasaran politik, strategi ini dikenal sebagai humanizing the brand.
Namun, di balik itu, terdapat dilema. AI juga berpotensi mengaburkan batas antara representasi autentik dan citra yang direkayasa. Apa yang ditampilkan bisa jadi bukan refleksi kepribadian asli, melainkan konstruksi visual yang disesuaikan dengan algoritma dan tren.
Seorang pakar komunikasi digital, beberapa waktu lalu menyebut fenomena ini sebagai bentuk populisme digital. “Pemimpin tak lagi hanya berbicara lewat pidato dan kebijakan, tetapi melalui simbol, humor, dan visual yang mudah dicerna. Ini efektif, tapi berisiko jika tak disertai substansi,” ujarnya.
Hingga kini, penggunaan AI oleh Adnan masih berada di ranah hiburan ringan. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap menggantung, sejauh mana teknologi ini akan digunakan dalam komunikasi politik ke depan? Apakah berhenti sebagai konten akhir pekan, atau berkembang menjadi alat simulasi yang lebih kompleks bahkan berpotensi manipulatif dalam kontestasi politik?
Satu hal yang jelas, unggahan ini menunjukkan bahwa medan politik tak lagi terbatas pada ruang rapat dan podium pidato. Ia telah berpindah ke layar ponsel, linimasa media sosial, dan kini ke dalam algoritma kecerdasan buatan.
























