Fajar Suhaimi Dilantik PPPK: Meski Paruh Waktu, Syukur Ini Sepenuh Hati
BUKABACA.co.id, SIAK — Alhamdulillah. Satu kata sederhana yang lahir dari perjalanan panjang penuh pengorbanan. Bagi Fajar Suhaimi, tenaga honorer di Kabupaten Siak, bukan sekadar tentang status atau amanah kerja, melainkan titik makna dari delapan tahun perjuangan yang tak selalu mudah.
Delapan tahun berjalan, Fajar mengaku telah melewati banyak fase berat bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Hari-hari yang dipenuhi kerja, penantian, dan doa kerap menguji keteguhan hati. Namun ia memilih bertahan, percaya bahwa setiap kesabaran akan menemukan waktunya sendiri.
Dengan suara penuh syukur, Fajar menyampaikan terima kasih kepada Bupati Siak Afni Z, Wakil Bupati Syamsurizal Budi, serta seluruh instansi pemerintahan terkait atas kepercayaan dan amanah yang diberikan. Baginya, kepercayaan itu bukan sekadar pengakuan, melainkan bukti bahwa pengabdian yang tulus tak pernah benar-benar sia-sia.
Ucapan terima kasih juga ia tujukan kepada keluarga besar yang sejak 2017 tak pernah berhenti menguatkan. Dukungan yang mungkin tak selalu terdengar, namun selalu terasa terutama saat lelah tak sanggup lagi diucapkan dengan kata-kata.
Ia menyebut satu per satu keluarga yang setia menyertai langkahnya sejak awal, yaitu Linda Lisarni, Agus Susanto, Anuar Ys, Zulfan Afandi, Nia Cahayanii, dan keluarga besar lainnya yang menjadi sandaran di setiap persimpangan jalan.
Namun di antara semua dukungan, nama sang istri, Santi Novita, disebut dengan nada paling dalam. Bagi Fajar, istrinya adalah penopang paling setia yang menguatkan dalam diam dan menyertai dengan doa tanpa henti. Ia berharap, pilihan yang diambil hari ini menjadi jalan terbaik dan penuh berkah bagi keluarga kecil mereka.
Ada satu bagian dari perjalanan ini yang membuat hati Fajar bergetar. Sebuah bisikan lirih yang datang dari relung terdalam.
“Di titik ini, hati saya berbisik lirih. Andai Ibunda masih di sisi, pasti beliau bangga dan tersenyum melihat saya hari ini,” ucapnya, menahan haru, Sabtu (20/12/2025).
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap pencapaian, selalu ada cinta orang tua yang tak lekang oleh waktu, meski raga telah tiada.
Fajar pun menutup kisah syukurnya dengan kalimat sederhana namun penuh makna: “Meski paruh waktu, rasa syukur ini sepenuh waktu.”
Sebuah ungkapan jujur dari seorang pengabdi, bahwa kerja bukan semata tentang jam dan status, melainkan tentang kesabaran dan kesetiaan.
Ditahui, Fajar sebelum dilantik PPPK paruh waktu merupakan tenaga pendamping sosial di Siak.
























