Goyang Lidah Politik di Balik Mundurnya Sang “Komandan” Sulsel
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Kabar berembus pelan, lalu tiba-tiba mengguncang. Rusdi Masse Mappasessu (RMS) figur yang selama lebih dari satu dekade menjadi wajah sekaligus mesin politik Partai NasDem di Sulawesi Selatan, dikabarkan menyodorkan surat pengunduran diri ke Dewan Pimpinan Pusat NasDem di Gondangdia, Jakarta.
Bagi NasDem, ini bukan sekadar isu internal. Ini alarm keras. Sulawesi Selatan selama ini dikenal sebagai “lumbung suara” NasDem di kawasan timur. Dan RMS adalah arsiteknya. Di bawah kepemimpinannya, NasDem menjelma kekuatan dominan, bahkan sanggup menggeser hegemoni lama Partai Golkar di daerah yang dikenal keras dan pragmatis secara politik itu.
Jika benar RMS mundur, NasDem berpotensi kehilangan bukan hanya seorang ketua wilayah, tetapi simpul kekuasaan.
Ketua Umum NasDem Surya Paloh bergerak cepat. Syaharuddin Alrif, Sekretaris DPW NasDem Sulsel sekaligus loyalis RMS, dipanggil ke Jakarta. Pertemuan di Gondangdia itu dibaca banyak pihak sebagai langkah “pemadaman kebakaran” sebelum api membesar, Kamis (22/1/2026).
Tak ada pernyataan resmi. Namun unggahan Syaharuddin di media sosial justru menimbulkan tafsir baru. Kalimatnya singkat, nyaris normatif, tapi sarat kode politik, “Amanah dilaksanakan. Bismillah Tawakkaltu Allallah.”
Di dunia politik, kalimat seperti itu jarang berdiri sendiri. Ia biasanya lahir dari kesepakatan atau setidaknya instruksi yang belum siap diumumkan ke publik.
Masalah NasDem di Sulawesi Selatan bukan sekadar soal struktur, melainkan soal figur. Selama ini, loyalitas kader di tingkat bawah lebih banyak melekat pada RMS ketimbang pada partai. NasDem tumbuh bukan sebagai institusi ideologis, melainkan sebagai kendaraan politik yang dikendarai oleh satu komandan kuat.
Risikonya jelas. Jika RMS benar-benar angkat kaki, NasDem berpotensi memicu eksodus kader. Partai bisa tetap hidup, tetapi tanpa mesin yang selama ini membuatnya menang.
Namun ancaman itu tidak hanya dirasakan NasDem. Partai-partai lain pun mulai menghitung ulang peta kekuatan. Jika RMS berlabuh ke partai lain, keseimbangan politik Sulsel bisa berubah drastis. Jika ia memilih membangun poros sendiri, ia tetap menjadi kingmaker yang menentukan arah Pilkada dan Pemilu mendatang.
Pengamat membaca dua kemungkinan. Pertama, isu pengunduran diri ini adalah manuver untuk menaikkan daya tawar RMS di hadapan DPP sebuah gertakan terukur dalam negosiasi elite. Kedua, ini adalah langkah awal menyiapkan sekoci baru menuju konstelasi politik 2029, ketika peta kekuasaan nasional dan daerah kembali diacak.
Apa pun skenarionya, satu hal tak terbantahkan, NasDem akan pincang tanpa pengganti RMS yang setara. Restorasi politik yang selama ini dikampanyekan Surya Paloh di Sulawesi Selatan bertumpu pada satu nama.
























