Hulu Terjaga atau Hilir yang Menanggung Beban
BUKABACA.co.id, JAWA BARAT – Di kaki Gunung Wayang, air jernih mengalir tenang dari mata air Cisanti. Dari titik nol inilah Sungai Citarum bermula dan dari tempat yang sama pula, persoalan lingkungan Jawa Barat selama puluhan tahun seakan dipertaruhkan. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, beberapa waktu yang lalu datang meninjau kawasan ini dengan satu pesan kunci menjaga hulu bukan pilihan, melainkan syarat mutlak keberlanjutan Citarum.
Dalam kunjungan kerjanya, Hanif menegaskan bahwa kualitas air di wilayah hilir mulai dari Bandung Raya hingga kawasan industri dan permukiman padat sangat ditentukan oleh sejauh mana kawasan tangkapan air di Cisanti dilindungi. Hulu yang rusak, kata dia, akan mewariskan masalah berlapis di hilir, pencemaran, banjir, hingga krisis air bersih.
Sebagai hulu sungai terpanjang di Jawa Barat, Cisanti bukan sekadar situs ekologis. Ia adalah barometer. Dari sinilah bisa diukur apakah tata kelola lingkungan benar-benar berjalan dari hulu ke hilir, atau justru terhenti pada slogan dan program jangka pendek. “Cisanti adalah sumber kehidupan DAS Citarum. Jika kawasan hulunya terjaga, maka beban lingkungan di hilir akan jauh lebih ringan,” ujar Hanif di sela peninjauan.
Hanif menyebut Cisanti memiliki nilai strategis karena berfungsi sebagai benteng pertama ketahanan sumber daya air. Beban lingkungan di wilayah perkotaan yang padat, menurutnya, tak mungkin dikurangi jika sumber air sudah terkontaminasi sejak awal. Pernyataan itu sekaligus menyinggung persoalan lama, upaya membersihkan Citarum di hilir kerap tak sebanding dengan lemahnya perlindungan di hulu.
Dalam kerangka program Citarum Harum, pemerintah kembali menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Namun di lapangan, tantangan kerap datang dari fragmentasi kewenangan dan kepentingan. Hanif menilai sinergi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat harus dipusatkan pada perlindungan zona konservasi agar pemulihan sungai tidak terputus di tengah jalan sebuah kritik halus terhadap pendekatan sektoral yang selama ini membayangi pengelolaan DAS Citarum.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap kelestarian Citarum tidak hanya berasal dari industri. Limbah domestik, pengelolaan sampah perkotaan yang buruk, dan perubahan tata guna lahan menjadi faktor yang sama seriusnya. Karena itu, KLH/BPLH, kata Hanif, mendorong kebijakan lingkungan yang tak sekadar reaktif terhadap pencemaran, tetapi preventif dengan memperkuat perlindungan ekosistem kunci di hulu.
Pemerintah pusat berjanji akan terus mengintegrasikan program lintas kementerian dan daerah agar tak terjebak ego sektoral dalam penyelamatan sungai. Bagi Hanif, keberhasilan penanganan Citarum membutuhkan napas panjang dan konsistensi menjaga setiap jengkal area tangkapan air dari pegunungan hingga perkotaan sebagai satu kesatuan ekosistem.
“Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong,” kata Hanif. “Hulu yang terjaga, kota yang bersih, dan sungai yang sehat adalah satu kesatuan.”
Di Cisanti, air masih mengalir jernih. Pertanyaannya, sampai kapan keteguhan menjaga hulu benar-benar bertahan ketika aliran sungai memasuki wilayah dengan kepentingan yang jauh lebih kompleks
























