Indeks Literasi Naik, Tapi Minat Baca Indonesia Memprihatinkan
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Tingkat literasi Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural. Data dari berbagai lembaga nasional memperlihatkan adanya peningkatan pada literasi berbasis keterampilan, seperti literasi keuangan dan digital, namun di sisi lain minat baca dan kemampuan memahami bacaan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dari sisi Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dirangkum dari berbagai sumber, tren nasional terus bergerak positif. Pada 2024, skor IPLM Indonesia tercatat 73,52, melampaui target awal sebesar 71,4. Untuk meningkatkan akurasi pengukuran, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2025 mulai menguji instrumen kajian baru agar perhitungan IPLM lebih merefleksikan kondisi literasi riil di masyarakat. Peningkatan budaya baca juga masuk dalam prioritas Rencana Strategis Perpusnas 2025–2029 sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Perkembangan signifikan juga terlihat pada literasi keuangan dan digital. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama BPS, indeks literasi keuangan Indonesia naik menjadi 66,46 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut terus meningkat hingga 69,35 persen, dengan tingkat inklusi keuangan mencapai 93 persen. Sementara itu, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 tercatat 44,53, menandakan kemampuan masyarakat dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi digital semakin membaik.
Namun, kemajuan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan minat baca masyarakat. Survei tahun 2025 menunjukkan hanya 1 dari 5 orang Indonesia yang membaca setiap hari. Data UNESCO yang kerap dijadikan rujukan bahkan menyebutkan bahwa hanya 1 dari 1.000 penduduk yang memiliki minat baca aktif. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kualitas pemahaman bacaan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat bahwa meski sekitar 75 persen anak Indonesia sudah bisa membaca, sebagian besar masih kesulitan memahami isi bacaan secara mendalam.
Dalam konteks global, Indonesia juga tengah mempersiapkan diri menghadapi survei utama PISA 2025. Pemerintah menargetkan perbaikan signifikan dari skor sebelumnya yang berada di angka 359 poin, dengan sasaran jangka menengah mencapai 419 poin pada 2028. Target ini mencerminkan upaya serius untuk meningkatkan kualitas literasi, khususnya dalam pemahaman membaca dan bernalar.
Sepanjang 2025, pemerintah menggulirkan berbagai program penguatan literasi, salah satunya melalui gerakan #Sepekan1Buku untuk membiasakan masyarakat membaca secara rutin. Di sisi lain, persoalan akses dan distribusi buku masih menjadi tantangan besar. Rasio buku nasional dinilai masih jauh dari rekomendasi UNESCO, yakni tiga buku per orang per tahun, sehingga pemerataan bahan bacaan menjadi agenda penting ke depan.
Secara keseluruhan, data literasi Indonesia tahun 2025 memperlihatkan kemajuan yang nyata di beberapa sektor strategis, namun juga menegaskan bahwa peningkatan minat baca dan kualitas pemahaman masih membutuhkan intervensi kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
























