Petugas Kereta Api Sulsel Disorot Usai Diduga Lalai Layani Penumpang Anak, Ketua SAPMA PP Maros Bilang Begini
MAROS – Pelayanan publik Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan menjadi sorotan setelah seorang petugasnya diduga menunjukkan sikap tidak manusiawi terhadap seorang anak di bawah umur dan ibunya saat perjalanan kereta rute Pangkajene–Barru–Mandai pada akhir pekan lalu.
Peristiwa ini terjadi saat satu rombongan keluarga yang terdiri dari sekitar 10 orang melakukan perjalanan dengan kereta api dari Stasiun Pangkajene menuju Barru, lalu ke Mandai, dan berencana kembali ke Pangkajene. Mereka telah membeli 30 tiket sesuai rute dan jumlah perjalanan.
“Di awal perjalanan dari Pangkajene ke Barru kami semua berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Tapi kami tetap menikmati perjalanan,” ujar salah satu anggota keluarga.
Namun sesampainya di Stasiun Mandai, ketegangan muncul ketika seorang anak dari rombongan tersebut tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan oleh petugas karena dianggap tidak memiliki tiket. Meskipun keluarga telah bersedia membeli tiket tambahan dan membayar berapa pun biayanya, petugas tetap bersikeras bahwa tiket sudah habis.
Yang membuat keluarga semakin kecewa adalah pernyataan petugas yang dianggap tidak pantas.
“Anak kami yang masih kecil malah diminta ditinggal di stasiun. Petugas bilang, ‘simpan saja ini anak di sini.’ Ini sungguh tidak manusiawi dan menyakitkan,” ungkap perwakilan keluarga dengan nada kecewa.
Ketegangan sempat mereda setelah seorang petugas keamanan memperbolehkan mereka melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Pangkep, namun karena kereta telah penuh, rombongan akhirnya memilih menyewa mobil Maxim untuk kembali ke Pangkajene.
Insiden ini memicu keprihatinan publik, termasuk dari SAPMA Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Maros. Ketua SAPMA PP Maros, Ahmad Takbir Abadi, mengecam keras tindakan petugas yang dianggap tidak mencerminkan etika pelayanan publik.
“Sebagai pelayan masyarakat, seharusnya petugas KAI bersikap lebih profesional dan manusiawi, terlebih dalam situasi yang melibatkan anak-anak dan perempuan,” ujar Ahmad Takbir, Selasa (24/6).
Ia meminta pihak KAI segera melakukan evaluasi internal, termasuk terhadap prosedur pelayanan dan sikap petugas lapangan, agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini bukan sekadar soal teknis tiket, tapi soal kemanusiaan dan kepekaan terhadap kondisi penumpang,” tambahnya.
Keluarga yang menjadi korban berharap kasus ini bisa menjadi bahan refleksi bagi seluruh institusi layanan publik, agar lebih mengutamakan empati dan profesionalisme dalam setiap tugas pelayanan. (gtr/gtr)
























