Sentilan Remaja dan Asap di Jalan Raya

Seorang Remaja Berpakaian Seragam Sekolah MengedukasiTentang Rokok (foto/ist).

BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Seorang remaja berseragam sekolah tiba-tiba menjadi pusat perhatian publik. Bukan karena prestasi akademik atau aksi heroik, melainkan karena keberaniannya menyentil praktik yang selama ini dibiarkan tumbuh di jalan raya, berkendara sambil merokok. Dalam sebuah video berdurasi singkat, ia memotret fenomena yang kerap dianggap sepele, namun sarat risiko baik bagi pelaku maupun pengguna jalan lain.

Video itu menyebar cepat. Isinya sederhana, namun nadanya tegas. Ia menyoroti pelajar dan pengendara sepeda motor yang melaju tanpa helm, berseragam sekolah, dengan sebatang rokok menyala di tangan.

“Udah mah nggak pakai helm, pakai seragam sekolah, merokok pula,” ucapnya. Kalimat itu terdengar satir, tapi mengandung kegelisahan yang nyata.

Merokok sambil mengendarai motor kerap dipersepsikan sebagai ekspresi gaya hidup maskulin, santai, dan bebas. Namun di balik citra itu, tersembunyi potensi bahaya. Satu tangan mengendalikan kendaraan, tangan lain memegang rokok, perhatian pun terbelah. Di jalan yang padat, sepersekian detik kehilangan fokus bisa berujung celaka.

Asap dan abu rokok yang beterbangan juga menjadi ancaman tersendiri. Bagi pengendara di belakang, abu panas dapat melukai mata atau memicu kecelakaan. Ini bukan sekadar soal preferensi pribadi, melainkan persoalan etika di ruang publik yang semestinya aman bagi semua.

Praktik ini memuat lapisan pelanggaran yang berkelindan. Pertama, pelanggaran lalu lintas: tidak mengenakan helm dan berkendara tanpa konsentrasi penuh. Kedua, pelanggaran etika publik, mengabaikan kenyamanan dan kesehatan orang lain. Ketiga, pelanggaran yang lebih serius ketika pelakunya masih berstatus pelajar di bawah umur.

Remaja dalam video itu, dengan nada sarkas, mempertanyakan seberapa “kuat” paru-paru para pelaku. Sindiran itu menyentuh fakta medis yang tak terbantahkan: rokok mengandung zat adiktif yang berisiko tinggi terhadap kesehatan, terlebih bagi remaja yang sistem tubuhnya belum berkembang sempurna.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana pelanggaran berulang yang dibiarkan lama-kelamaan berubah menjadi kebiasaan sosial. Jalan raya menjadi ruang kompromi, tempat aturan dilonggarkan dan pengawasan melemah. Aparat kerap hadir setelah kecelakaan terjadi, bukan sebelum risiko itu menjelma tragedi.

Seruan remaja tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan tak selalu datang dari otoritas. Kadang, kritik paling tajam justru lahir dari mereka yang setiap hari menyaksikan ketidaktertiban itu dari jarak dekat.

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page