Tak Menjadi Aku

bukabaca.id, Maros – Usia hanya menjelma angka yang usai. Apakah kehidupan hanya tentang tempat satu dan yang lain, yang kau pernah berada disana, tentang benda yang menempel ditubuhmu atau tentang tempat yang kau tinggali.

Segalanya, jika hanya tentangmu hanya seperti hujan di bulan di November yang juga akan berlalu. Cara kau dikenang hanya tentang apa yang kau kerjakan untuk orang lain. Peninggalanmu selalu tentang apa yang kau bangun untuk orang lain.

Suatu saat nanti jika urusanku telah selesai, aku ingin setidaknya pernah menanam sebatang pohon di pinggir jalan. Pohon yang tumbuh rimbun, tempat orang-orang bisa menghindari terik matahari, tempat sepasang manusia yang jatuh cinta berteduh dari deras hujan, tempat burung bisa membangun sarang, tempat orang-orang bisa berhenti untuk memikirkan kebaikan orang lain.

Aku hanya ingin sebatang pohon dan ucapan terimakasih yang banyak. Suatu hari, kau sedang sibuk-sibuknya, pekerjaan yang kau inginkan dulu, pekerjaan yang lebih tua dari umurmu, yang sudah ada sebelum kau lahir akhirnya meminta lebih dari pada yang bisa kau berikan

Kita manusia, kita selalu ingin jadi yang bukan kita, yang sudah cantik ingin banyak follower, ingin terkenal, yang biasa saja ingin cantik dan tampan, yang sudah mendaki gunung ingin menyelam laut, yang menyelam laut ingin terbang. Kita adalah kepenatan yang kita ciptakan sendiri.

Apasalahnya jika lenganmu pendek dan tak bisa memeluk tapi hatimu lebih hangat dari selimut apapun. Apasalahnya hatimu sepi, bahkan langit juga kadang tak ingin diisi apapun, tidak awan atau bintang, langit hanya ingin jadi langit saja. Kadang laut hanya ingin jadi laut saja, tanpa gelombang, kapal juga rona senja.

Kadang kedai kopi juga harus sepi, kadang buku juga ingin menutup dan diam saja di tumpukan dan bisa jadi hatimu ingin jadi hati saja tanpa siapa-siapa.

Bisa jadi nanti puisi tak ingin ada kata-kata, dan pertanyaan tak menginginkan tanda tanya. Bahwa berhenti membaca tak harus menunggu tanda titik, bahwa tanda baca hanya untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri.

Bahwa kau bisa kehilangan apa saja tapi kita tak boleh kehilangan diri sendiri.

Kan pergi juga akhirnya
Tak jauh-jauh, sebab yang pandai memainkan waktu, tak ada yang jauh.
Kita selalu dekat, sedekat Bismillah dan Alhamdulillah.

Kita mengadu badan
Mengadu buah dadu
Sebab dalam dada, seperti biasa, kita harus menyembunyikan luka-luka.

Kan pergi juga kita, akhirnya. Sebab yang dihitung sudah habis.
Yang habis tak bisa dihitung, yang untung tak bisa dibawa pulang, yang dibawa pulang tinggal utang.

Jangan menghitung pagi, setiap hari. Setelah semuanya pergi satu persatu, kita akan menangis juga, sebab yang diaduk didalam gelasnya bukan susu. Tapi rindu, mereka memintanya setiap bangun tidur pada Tuhan.

Kan pergi juga kita akhirnya.

Kemudian ingin kau peluk petang yang basah itu agar dikira, yang menetes dan basah di ujung jari kaki mu itu adalah air hujan, Bukan air mata.

Aku mendoakanmu dan kau melihatku sambil tersenyum, kita ikhlaskan. Tuhan bekerja dengan cara-caranya.

Aku Guntur sebab selalu ada Hujan.

Penulis Cerpen/Essai: Guntur Rafsanjani

(Pegiat literasi & Duta Pariwisata Kabupaten Maros)

Baca Lainnya

Serangan Balik dari Kelompok Buzzer

Redaksi BUKABACA.co.id
0
Serangan Balik Buzzer
0
OPINI: Politik Adalah Strategi
Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page