Topeng Kebaikan di Balik Mulut Manis
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Tidak semua keramahan lahir dari ketulusan. Di balik tutur kata yang lembut dan sikap yang tampak bersahabat, terselip kemungkinan lain, kepentingan yang disamarkan.
Fenomena ini bukan hal baru, namun kerap luput dikenali karena dibungkus rapi dalam citra “orang baik”.
Sejumlah tanda bisa menjadi petunjuk. Pertama, kebaikan yang tampil hanya saat ada penonton.
Mereka sigap membantu ketika sorotan mengarah, namun berubah dingin ketika situasi sepi. Kebaikan, dalam hal ini, menjadi pertunjukan, bukan nilai.
Kedua, pujian yang tidak sepenuhnya pujian. Kalimat manis disisipkan dengan nada merendahkan secara halus. Sekilas terdengar apresiatif, tetapi menyimpan pesan bahwa yang dipuji tetap berada di bawah.
Ketiga, cara memperlakukan orang yang berbeda-beda, tergantung status. Sikap hangat ditujukan kepada mereka yang dianggap penting, sementara yang lain diabaikan, bahkan diremehkan. Relasi menjadi alat, bukan ruang saling menghargai.
Di titik ini, kebaikan tidak lagi berdiri sebagai sikap moral, melainkan strategi sosial. Dan seperti strategi lainnya, ia dijalankan dengan perhitungan bukan ketulusan.























Tinggalkan Balasan