Kejang Balita di Kabin Citilink, Dokter Anak Ambil Alih Situasi Darurat
BUKABACA.co.id, JAKARTA – Situasi darurat terjadi di dalam kabin pesawat Citilink rute Jakarta–Bengkulu, sesaat sebelum lepas landas. Seorang balita berusia 20 bulan mengalami kejang demam ketika pesawat masih berada di landasan pacu. Dalam keterbatasan ruang dan fasilitas medis di kabin, seorang dokter spesialis anak mengambil alih penanganan awal.
Dokter tersebut adalah dr. Erli Meichory Viorika, Sp.A, yang akrab disapa dr. Ika. Ia segera merespons setelah mendengar teriakan seorang ibu yang meminta pertolongan. Saat tiba di lokasi, kondisi balita berinisial R sudah mengkhawatirkan.
“Anak sudah membiru dan mengalami kejang di seluruh tubuh. Ini kondisi gawat darurat yang berisiko mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kerusakan saraf bila tidak segera ditangani,” ujar dr. Ika, dikutip dari wartabanjarcom, Sabtu, 31 Januari 2026.
Menurut penjelasan dokter, kejang dipicu demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan berupa batuk dan pilek. Di tengah keterbatasan alat medis di pesawat, dr. Ika melakukan serangkaian tindakan darurat untuk menstabilkan kondisi pasien sembari berkoordinasi dengan awak kabin.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pemberian bantuan oksigen, memposisikan tubuh anak agar tidak tersedak jika muntah, serta membuka pakaian balita untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara manual. Tindakan cepat tersebut berangsur meredakan kejang dan membantu memulihkan kesadaran anak.
Kepanikan di dalam kabin perlahan mereda. Proses keberangkatan pesawat sempat tertunda, namun keselamatan penumpang menjadi pertimbangan utama.
Setelah kondisi balita dinyatakan stabil, dr. Ika berdiskusi dengan kapten pilot terkait kelanjutan penerbangan. Berdasarkan evaluasi bersama, pilot memutuskan penerbangan tetap dilanjutkan menuju Bengkulu.
Untuk memastikan pemantauan berlanjut, dr. Ika diminta berpindah ke kursi bagian depan agar dapat mengawasi kondisi balita hingga pesawat mendarat.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa respons cepat dalam situasi darurat, bahkan di ruang terbatas seperti kabin pesawat dapat menjadi penentu antara kepanikan dan penyelamatan nyawa. Kehadiran tenaga medis di saat genting sering kali menjadi faktor krusial yang tak tergantikan.
























