Di Balik Huruf Tak Beraturan Puncak Tanadoang
BUKABACA.co.id, SELAYAR – Deretan huruf “Puncak Tanadoang” yang berdiri di Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, tidak sekadar penanda tempat. Dari kejauhan, bentuknya tampak acak, jauh dari kesan rapi dan simetris. Namun, di balik ketidakteraturan itu, tersimpan gagasan artistik sekaligus pesan sosial yang terukur.

Seniman lokal, Nur Kamar Syam, menyebut desain tersebut bukan kebetulan. Ia sengaja meninggalkan pakem estetika konvensional. Huruf-huruf yang tampak tak seragam itu, menurut dia, merupakan representasi visual dari masyarakat Selayar yang majemuk.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Tanadoang dihuni oleh beragam latar belakang, karakter, dan identitas,” ujar Nur Kamar.
Pendekatan serupa terlihat pada pemilihan material. Batu-batu yang digunakan tidak diseragamkan ukurannya. Sebagian tampak besar, sebagian lain kecil, bahkan kontras satu sama lain. Meski demikian, seluruhnya disusun dalam satu komposisi yang utuh.
Di situlah, kata Nur Kamar, metafora itu bekerja, perbedaan yang tidak dihapus, melainkan dirangkai menjadi kesatuan.
Asdar, kerabat sekaligus pihak yang terlibat dalam perwujudan instalasi tersebut, menambahkan makna lain. Kata “puncak” tidak semata menunjuk lokasi geografis, melainkan simbol kebanggaan.
Ia menyinggung posisi Selayar sebagai wilayah dengan jejak sejarah panjang dan identitas yang kuat.
“Huruf yang terlihat acak justru menegaskan bahwa perbedaan bukan kelemahan, tetapi kekuatan,” katanya.
Pilihan warna biru pada latar turut menguatkan narasi. Bagi masyarakat Selayar, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup. Warna itu menjadi penanda identitas yang melekat dalam keseharian warga.
Instalasi ini, dengan segala kesederhanaannya, melampaui fungsi sebagai penanda ruang. Ia menjadi refleksi tentang cara masyarakat merawat perbedaan dalam satu kesatuan sebuah gambaran tentang Selayar yang tidak hanya kaya lanskap, tetapi juga kokoh dalam harmoni sosial.
Nur Kamar Syam dan Asdar menyebut, gagasan pembangunan Puncak Tanadoang turut diprakarsai mantan Kapolres Selayar, Kombes Pol Eddy Suryantha Tarigan.
“Beliau termasuk inisiator di balik pembangunan Puncak Tanadoang,” ujar Asdar.























Tinggalkan Balasan