Ada Warga Mirip Oemar Bakri di Malam Taptu Selayar
BUKABACA.co.id, SELAYAR – Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, ribuan warga memadati ruas jalan di Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Malam itu, Sabtu, 16 Agustus 2026, Malam Taptu menjadi panggung kecil bagi warga untuk merayakan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.
Di antara barisan peserta yang mengenakan seragam dinas dan atribut organisasi, seorang pria tampil berbeda. Ia mengayuh sepeda onthel tua dengan setang tinggi. Di kepalanya bertengger topi koboi jerami berwarna krem. Kemeja abu-abu tua bergaya lawas melengkapi penampilannya.
Pria itu adalah Undink, pegawai Kantor Pajak Kepulauan Selayar. Malam itu ia sengaja meninggalkan kesan formal pekerja kantoran. Ia memilih menjelma menjadi sosok yang lekat dengan ingatan generasi lama, guru dengan sepeda tua.
“2026 adalah HUT RI ke-81. Sangat berkesan bagi saya karena diberikan ruang selebar ini untuk ikut merayakannya bersama warga Selayar di Malam Taptu,” kata Undink.
Sepeda onthel hitam yang dikendarainya bukan sekadar properti pawai. Ada pesan yang ingin ia bawa. Penampilannya terinspirasi dari Oemar Bakri, tokoh guru dalam lagu karya Iwan Fals yang selama bertahun-tahun menjadi simbol pengabdian guru di tengah keterbatasan.
“Sepeda dan pakaian guru kita ini sangat menginspirasi. Ada kebanggaan tersendiri bisa menghidupkan kembali sosok yang mengajarkan kita tentang kejujuran dan ketekunan,” ujarnya.
Bagi Undink, Oemar Bakri bukan hanya karakter dalam sebuah lagu. Ia adalah gambaran tentang guru yang bekerja dalam kesederhanaan, mengayuh sepeda, membawa pengetahuan, sekaligus menanamkan nilai kepada murid-muridnya.
Malam Taptu di Selayar pun berlangsung meriah. Warga berdesakan di sepanjang jalur pawai. Yel-yel, tepuk tangan, dan suara peserta bercampur dengan riuh penonton.
Namun, di tengah kemeriahan itu, sepeda tua Undink justru menjadi salah satu pemandangan yang mencuri perhatian.
Ia berjalan perlahan bersama barisan kecil sepeda tua. Sesekali ia melempar senyum dan mengangkat jempol kepada warga di pinggir jalan.
Tak ada pangkat di bahunya. Tak ada lencana yang berkilau. Hanya sepeda tua, pakaian bergaya guru tempo dulu, dan sebuah pesan sederhana tentang pengabdian.
Di Malam Taptu ke-81, Undink seperti mengajak warga Selayar menoleh sejenak ke masa lalu. Bahwa kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan parade dan pesta, tetapi juga dengan mengingat orang-orang yang pernah mengabdikan hidupnya tanpa banyak sorotan.
Malam itu, Oemar Bakri seolah kembali mengayuh di Selayar. Bukan dari buku pelajaran, melainkan dari sebuah sepeda tua yang melintas di tengah ribuan warga. Dan dari sana, sebuah pesan lama kembali terdengar tentang guru, pengabdian, kesederhanaan, dan Indonesia yang tak pernah selesai dibangun.























Tinggalkan Balasan