Lima Bupati Sulsel Membelot, Golkar–NasDem di Ujung Tekanan
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Peta politik Sulawesi Selatan kembali bergerak dinamis. Lima kepala daerah masing-masing dari Enrekang, Wajo, Sinjai, Selayar, dan Luwu Utara, merapat ke Partai Gerindra. Konsolidasi ini bukan sekadar manuver biasa, melainkan sinyal kuat pergeseran kekuatan menjelang kontestasi politik mendatang.
Dalam lanskap politik lokal yang selama ini diwarnai dominasi Golkar dan pengaruh NasDem, langkah kolektif para bupati tersebut berpotensi menciptakan efek domino. Gerindra, yang sebelumnya bermain lebih hati-hati di tingkat daerah, kini terlihat mulai mengokohkan pijakan dengan menggandeng figur-figur eksekutif yang memiliki basis massa riil.
Perpindahan dukungan ini bukan hanya soal afiliasi partai, tetapi juga menyangkut jaringan kekuasaan, distribusi pengaruh, hingga potensi mobilisasi suara. Kepala daerah, dengan akses langsung ke struktur birokrasi dan kedekatan dengan konstituen, menjadi aset strategis dalam pertarungan politik.
Bagi Golkar dan NasDem, perkembangan ini tentu bukan kabar ringan. Keduanya berisiko kehilangan simpul-simpul kekuatan di tingkat kabupaten jika tidak segera merespons dengan konsolidasi internal maupun reposisi strategi.
Sementara itu, Gerindra tampak memanfaatkan momentum untuk memperluas pengaruhnya di Sulsel wilayah yang selama ini menjadi barometer penting politik kawasan timur Indonesia. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin peta kekuatan partai di Sulsel akan mengalami redefinisi dalam waktu dekat.
Dikutip dari detikcom, Kamis (5/8/2026), pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad, melihat fenomena ini sebagai bagian dari kalkulasi jangka menengah. Bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang menyiapkan posisi tawar untuk 2029. Dalam bahasa politik, ini adalah investasi, menempatkan diri di partai yang memiliki probabilitas menang lebih besar.
Efeknya mulai terasa. Target Gerindra untuk meraih 10 kursi DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan kini tak lagi terdengar ambisius. Dengan bergabungnya lima kepala daerah, partai ini tidak hanya menambah kader, tetapi juga mengakumulasi “mesin ganda”, struktur partai dan jejaring kekuasaan lokal. Kombinasi ini kerap menjadi faktor penentu dalam kontestasi elektoral di daerah.
Namun, setiap penguatan di satu sisi hampir selalu berarti pelemahan di sisi lain. Dalam konteks ini, Golkar dan NasDem berada pada posisi yang tidak sepenuhnya nyaman.
NasDem, misalnya, masih menghadapi dampak kepergian figur kuncinya, Rusdi Masse Mappasessu, yang memilih jalur politik berbeda. Kehilangan figur sentral dalam politik lokal bukan sekadar soal berkurangnya suara, tetapi juga menyangkut retaknya jaringan loyalitas yang selama ini menopang partai.
Golkar, di sisi lain, tampak berada dalam fase mencari momentum baru. Perpindahan sebagian kader ke Gerindra menjadi indikator bahwa soliditas internal sedang diuji. Dalam politik, perpindahan kader bukan hanya soal individu, tetapi juga tentang berpindahnya basis dukungan dan jaringan yang ikut menyertainya.
Sulawesi Selatan kini menjadi laboratorium kecil untuk membaca arah politik nasional. Apa yang terjadi di daerah ini mencerminkan dinamika yang lebih luas, bahwa partai politik bukan entitas statis, melainkan arena yang terus bergerak mengikuti logika kekuasaan.























Tinggalkan Balasan