Tetangga Sering Marah Meledak-ledak dan Merusak Barang, Apakah Gangguan Jiwa? Ini Saran Dokter
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Memiliki tetangga dengan perilaku yang sulit diprediksi bisa menjadi persoalan tersendiri. Apalagi jika seseorang kerap tiba-tiba marah, berkata kasar, merusak barang di sekitarnya, kemudian kembali bersikap baik seolah tidak terjadi apa-apa.
Pertanyaan mengenai kondisi tersebut pernah konsultasi kepada dokter melalui forum konsultasi kesehatan. Ia menceritakan perilaku tetangganya yang emosinya disebut sulit dikendalikan.
“Dia bisa saja tiba-tiba marah meledak-ledak. Emosinya tidak terkontrol. Berkata kasar. Kemudian tiba-tiba saja dia bersikap baik, manis, seperti tidak terjadi apa-apa,” demikian keluhan salah satu warga tersebut.
Menurutnya, kondisi itu dapat kembali muncul ketika ada sesuatu yang dianggap memicu emosi. Bahkan, tetangganya disebut dapat merusak barang-barang di sekitarnya dan kerap memutarbalikkan fakta.
Situasi tersebut membuat pembaca khawatir. Ia mempertanyakan apakah sebaiknya menjaga jarak karena perilaku yang tidak terkendali berpotensi membahayakan orang lain. Ia juga bertanya apakah perilaku tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa akut.
Dokter Ulfi menjelaskan bahwa diagnosis gangguan kesehatan jiwa tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan cerita mengenai perilaku seseorang. Pemeriksaan secara langsung tetap diperlukan.
“Untuk memastikan seseorang mengalami gangguan kesehatan jiwa diperlukan pemeriksaan langsung oleh dokter ahli kesehatan jiwa,” demikian penjelasan dr. Ulfi.
Pemeriksaan tersebut dapat mencakup wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan kesehatan jiwa. Karena itu, seseorang tidak dapat langsung disebut mengalami gangguan jiwa hanya berdasarkan perilaku yang terlihat dari lingkungan sekitar.
Meski demikian, perilaku yang sulit mengendalikan emosi dapat menjadi persoalan dalam hubungan sosial, terutama jika sudah mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Dokter menyarankan agar orang yang berada di lingkungan tersebut mempertimbangkan aspek keamanan dalam berinteraksi. Interaksi dapat dibatasi pada hal-hal yang positif dan tidak memicu persoalan atau menyinggung hal yang berpotensi memperburuk situasi.
Menjaga jarak bukan berarti harus memusuhi seseorang. Namun, ketika perilaku seseorang mulai membuat orang lain merasa tidak aman, membatasi interaksi dapat menjadi langkah untuk mengurangi risiko konflik.
Interaksi sebaiknya dilakukan ketika situasi kondusif. Hindari berdebat ketika orang tersebut sedang mengalami ledakan emosi, terlebih jika sudah muncul perilaku agresif atau tindakan merusak barang.
Dokter juga menekankan pentingnya memahami lingkungan sekitar agar hubungan sosial tetap berjalan dengan baik sekaligus meminimalkan risiko negatif.
Pada akhirnya, apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak merupakan persoalan medis yang membutuhkan penilaian profesional. Yang terpenting bagi orang di sekitarnya adalah menjaga batas interaksi, menghindari situasi yang berisiko, dan mengutamakan keselamatan.
Jika perilaku agresif berkembang menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain, bantuan profesional dan dukungan lingkungan perlu segera dipertimbangkan.























