Pedagang Bukan Bank, Modal Dagang Jangan Jadi Utang Tetangga
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Yang membuat modal pedagang sembako tersendat kadang bukan karena dagangan sepi. Masalahnya justru datang dari rasa sungkan.
Tetangga meminjam. Kenalan meminta bantuan. Saudara datang dengan kalimat yang hampir selalu sama “Pinjam dulu ya, nanti saya ganti.”
Bagi yang meminjam, mungkin persoalan selesai ketika uang berpindah tangan. Bagi pedagang, persoalan baru saja dimulai.
Besok ada tagihan sales. Ada barang yang harus diputar kembali. Ada kebutuhan toko yang tidak bisa menunggu. Sementara uang yang seharusnya menjadi modal justru berada di tangan orang lain.
Gracia Micelle, seorang pedagang sembako, menyebut kondisi itu sebagai salah satu alasan pedagang kerap kesulitan menjaga perputaran modal.
Uang di laci toko bukan uang menganggur. Di dalamnya ada modal, stok barang, dan keberlangsungan usaha.
Pedagang berjualan untuk memutar modal, bukan menjadi tempat pinjaman bagi semua orang.
Karena itu, mengatakan “tidak” ketika seseorang meminta pinjaman bukan selalu berarti pelit. Kadang, itu adalah cara pedagang mempertahankan tokonya tetap hidup.
Dalam urusan modal, pedagang memang harus tega?























