Rupiah Melemah, BI Ungkap Sumber Tekanan
BUKABACA.co.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah. Pada perdagangan Senin (21/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya berdasarkan data Bloomberg.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perkembangan tersebut turut memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap di atas US$100 per barel menjadi salah satu perhatian utama bank sentral.
Erwin menilai kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar risiko inflasi global sekaligus menekan prospek fiskal. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap sentimen pelaku pasar dan pergerakan nilai tukar.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal,” ujar Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Selain gejolak geopolitik, kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Arus keluar dana dari aset portofolio domestik juga menjadi faktor yang diperhatikan dalam perkembangan pasar valuta asing.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” kata Erwin.
Menghadapi tekanan tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar tetap terjaga sesuai fundamental ekonomi.
Strategi stabilisasi ditempuh melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dan penguatan operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar. BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar serta kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan pemberian insentif.
Intervensi pasar dilakukan melalui sejumlah instrumen, mulai dari transaksi Non–Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non–Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BI meredam tekanan pasar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah perubahan kondisi ekonomi global.
Di sisi lain, bank sentral terus berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing. Diversifikasi kebutuhan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT) juga didorong sebagai salah satu strategi memperkuat stabilitas pasar keuangan.
Meski rupiah menghadapi tekanan, BI menyampaikan bahwa pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Posisi cadangan devisa Indonesia juga tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Pergerakan rupiah ke depan masih akan bergantung pada perkembangan geopolitik global, fluktuasi harga komoditas energi, kebutuhan valas domestik, serta respons kebijakan moneter dan pasar keuangan terhadap perubahan ekonomi internasional. (*)























