Ainal Mardhiah dan Jalur Panjang Perempuan Menembus Kekuasaan Yudisial
Ia berpindah dari satu pengadilan ke pengadilan lain, Meulaboh, Pariaman, Bukittinggi, Banda Aceh, Jantho, hingga Lhokseumawe. Ia menjalani hampir semua jenjang, hakim anggota, wakil ketua, ketua pengadilan.
Pada 2022, ia dipercaya menjadi Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Banda Aceh.
Ia mengadili di masa damai, juga di masa konflik bersenjata Aceh. Hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, Ainal tetap menjalankan peran sebagai hakim, ibu, istri, dan warga negara.
Pada 2012, ia terlibat dalam perumusan kebijakan nasional Sistem Peradilan Pidana Anak. Ia membawa pengalaman lapangan ke ruang legislasi. Prinsip keadilan restoratif, pemulihan, bukan semata hukuman, menjadi pijakannya.
Dalam kepemimpinan, Ainal memilih apa yang ia sebut “manajemen keibuan”. Ia hadir, mengenal orang-orangnya, mendekati tanpa kehilangan prinsip. Ia jarang duduk di kursi ketua. Ia lebih sering berkeliling dari satu ruang ke ruang lain.
Pandemi Covid membawa satu kisah kecil yang kelak terasa profetik. Pengadilan yang ia pimpin mendapat penghargaan Mahkamah Agung. Ainal tak datang ke Jakarta untuk menerimanya. Ia berseloroh kepada koleganya, “Nanti juga tiap hari ketemu Ketua MA.”
Kalimat itu, yang diucapkan sambil tertawa, berubah menjadi doa.
Pada 5 Januari 2024, Ainal resmi dilantik sebagai Hakim Agung. Dalam pendaftaran pertamanya. Di tengah cibiran bahwa ia “bukan siapa-siapa”.
Kini, dari rak buku perpustakaan hingga ruang sidang tertinggi negeri ini, Ainal Mardhiah menemukan ruang kelasnya yang paling luas, keadilan itu sendiri.
Penulis: Azzah Zain Al Hasany
























