Ainal Mardhiah dan Jalur Panjang Perempuan Menembus Kekuasaan Yudisial

Foto: Ainal Mardhiah bersama rekan Hakim Agung lainnya dalam Prosesi Pelantikan | Dok. Humas MA.

BUKABACA.co.id, JAKARTA – Takdir Ainal Mardhiah berbelok pelan, namun pasti. Perempuan kelahiran Takengon, 4 Mei 1966, itu tak pernah membayangkan akan berakhir di kursi Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung. Jalan hidupnya justru dimulai dari ruang sunyi, perpustakaan.

Ainal adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi pendidik, seperti ayahnya yang seorang guru. Ia bahkan ingin melampaui itu, menjadi dosen. Namun cita-cita itu kandas oleh stigma lama: perempuan dianggap tak cocok untuk karier akademik jangka panjang karena “pasti menikah”.

Ia mahasiswa teladan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Nilainya baik. Tapi pintu dosen tak terbuka untuknya. “Kamu kan nanti menikah,” begitu alasan yang ia terima.

Ainal tak berhenti. Lewat kolega ayahnya, ia bekerja sebagai penjaga perpustakaan di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Banda Aceh. Dari rak-rak buku itulah, ia belajar tentang keadilan, secara sunyi dan sederhana. Ia menata buku, mengurus peminjaman, hingga menimbang denda keterlambatan mahasiswa.

Pernah suatu kali, ia menghadapi mahasiswa yang telat mengembalikan buku. Dendanya 30 ribu rupiah, jumlah besar pada masanya. Ainal memilih jalan tengah. Ia memutuskan denda lima ribu rupiah. Keputusan itu ia catat rapi di buku register. “Saya menimbang rasa keadilan,” katanya.

Hidup Ainal dibentuk oleh disiplin keluarga. Tak ada asisten rumah tangga. Ia memasak, mencuci, menyetrika, hingga menyiapkan sahur. Ayahnya menanamkan satu kalimat yang kelak menjadi fondasi hidupnya, meski kamu perempuan, kamu harus bisa menjadi anak laki-laki sekaligus.

Naluri mendidik muncul lebih cepat dari yang ia sadari. Sejak SMA, ia mengajar kursus Bahasa Inggris. Saat kuliah hukum, ia mengajar lagi di sekolah, kampus, dan privat. Dari bahasa hingga hukum dagang dan perpajakan. Mengajar, bagi Ainal, bukan sekadar mencari nafkah, melainkan latihan tanggung jawab.

Ia sempat menjadi dosen di Banda Aceh pada awal 1990-an. Hingga suatu hari, sebuah pengumuman kecil di koran mengubah arah hidupnya: penerimaan calon hakim.

Awalnya, Ainal ragu. Ia mendaftar setengah hati, bersamaan dengan pendaftaran ke Departemen Luar Negeri dan sebagai panitera Pengadilan Agama. Tapi hasilnya jelas: ia lulus sebagai calon hakim.

Sejak itu, Ainal memilih jalan sunyi lain. Ia membatasi pergaulan, menolak banyak undangan, bahkan siap disebut sombong. Baginya, hakim harus menjaga jarak agar tak terintervensi.

Ia berpindah dari satu pengadilan ke pengadilan lain, Meulaboh, Pariaman, Bukittinggi, Banda Aceh, Jantho, hingga Lhokseumawe. Ia menjalani hampir semua jenjang, hakim anggota, wakil ketua, ketua pengadilan.

Pada 2022, ia dipercaya menjadi Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Banda Aceh.
Ia mengadili di masa damai, juga di masa konflik bersenjata Aceh. Hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, Ainal tetap menjalankan peran sebagai hakim, ibu, istri, dan warga negara.

Pada 2012, ia terlibat dalam perumusan kebijakan nasional Sistem Peradilan Pidana Anak. Ia membawa pengalaman lapangan ke ruang legislasi. Prinsip keadilan restoratif, pemulihan, bukan semata hukuman, menjadi pijakannya.

Dalam kepemimpinan, Ainal memilih apa yang ia sebut “manajemen keibuan”. Ia hadir, mengenal orang-orangnya, mendekati tanpa kehilangan prinsip. Ia jarang duduk di kursi ketua. Ia lebih sering berkeliling dari satu ruang ke ruang lain.

Pandemi Covid membawa satu kisah kecil yang kelak terasa profetik. Pengadilan yang ia pimpin mendapat penghargaan Mahkamah Agung. Ainal tak datang ke Jakarta untuk menerimanya. Ia berseloroh kepada koleganya, “Nanti juga tiap hari ketemu Ketua MA.”

Kalimat itu, yang diucapkan sambil tertawa, berubah menjadi doa.
Pada 5 Januari 2024, Ainal resmi dilantik sebagai Hakim Agung. Dalam pendaftaran pertamanya. Di tengah cibiran bahwa ia “bukan siapa-siapa”.

Kini, dari rak buku perpustakaan hingga ruang sidang tertinggi negeri ini, Ainal Mardhiah menemukan ruang kelasnya yang paling luas, keadilan itu sendiri.

Penulis: Azzah Zain Al Hasany

Baca Lainnya

0
Mimpi Dipatahkan Orang
0
Saat Kamera Ponsel ‘Menggantikan’ Fotografer

Topeng Kebaikan di Balik Mulut Manis

Redaksi BUKABACA.co.id
0
Topeng Kebaikan di Balik Mulut Manis
Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page