Kepala Desa Mandi Lumpur, Jalan 7 Kilometer Masih Dibiarkan Rusak

Sunarso, Kepala Desa Ngepringa, mandi lumpur (foto/tangkapan layar).

BUKABACA.co.id, SRAGEN – Pagi itu, seragam dinas yang biasa tampil rapi justru sengaja dikotori. Pak Sunarso, Kepala Desa Ngepringen, Kecamatan Kalijambe, memilih berdiri bahkan berendam di jalan berlumpur yang setiap hari dilalui warganya. Bukan untuk sensasi, melainkan sebagai protes sunyi atas kerusakan jalan sepanjang tujuh kilometer yang tak kunjung diperbaiki.

Jalan tersebut bukan sekadar akses desa. Ia adalah urat nadi ekonomi, jalur sekolah, dan lintasan ambulans. Namun bertahun-tahun dibiarkan rusak, berlubang, licin, dan kerap memakan korban. Truk pengangkut hasil bumi dilaporkan kerap terguling. Pengendara sepeda motor tak jarang terjatuh. Saat hujan, lumpur berubah menjadi jebakan.

“Ini bukan soal kenyamanan, tapi keselamatan,” ujar Sunarso kepada warga yang menyaksikan aksinya. Dengan seragam yang basah dan berlumur tanah, ia ingin menunjukkan bahwa penderitaan warga tak bisa diwakilkan hanya lewat proposal atau rapat koordinasi.

Aksi simbolis ini cepat menyebar di media sosial. Banyak yang menyebutnya sebagai potret kepemimpinan yang jarang terlihat, pejabat yang memilih turun langsung, alih-alih sekadar menyampaikan keluhan lewat jalur birokrasi. Namun di balik apresiasi publik, terselip pertanyaan lebih besar, mengapa harus menunggu aksi ekstrem agar suara desa didengar?

Pemerintah daerah sebelumnya disebut telah menerima laporan kerusakan jalan tersebut. Namun hingga kini, belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan. Sementara itu, warga Ngepringen tetap berjibaku dengan risiko setiap hari mengantar anak sekolah, membawa hasil panen, atau sekadar melintas untuk bertahan hidup.

Aksi Sunarso seolah menjadi pengingat keras, pembangunan tak boleh berhenti di atas meja. Ketika seragam dinas tak lagi takut lumpur, justru di situlah legitimasi seorang pemimpin diuji.

Pertanyaannya kini, apakah lumpur itu akan mengering bersama janji, atau benar-benar diaspal dengan tindakan nyata?

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page