Misteri Dicoretnya Chiki Fawzi dari Petugas Haji 2026
BUKABACA.co.id, JAKARTA — Langkah Chiki Fawzi terhenti di Asrama Haji Pondok Gede. Bukan oleh kelelahan diklat atau seleksi yang ketat, melainkan oleh sebuah keputusan mendadak: namanya dicoret dari daftar Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026, saat proses pendidikan dan pelatihan masih berjalan.
Keputusan itu datang tanpa aba-aba. Selasa, 27 Januari 2026, Chiki aktivis sekaligus seniman mengumumkan pencopotannya lewat video singkat di Instagram. Raut wajahnya letih, suaranya tertahan. “Manusia bisa berencana,” katanya dengan nada getir. Kalimat sederhana itu menyimpan keganjilan yang lebih besar dari sekadar kegagalan personal.
Chiki bukan peserta yang baru mendaftar. Ia sudah lolos tahapan seleksi awal, masuk sistem, bahkan mengenakan seragam biru petugas haji. Dalam mekanisme normal, tahapan verifikasi administratif dan penilaian kelayakan diselesaikan sebelum peserta masuk karantina atau diklat. Pencoretan di tengah jalan menabrak logika prosedural.
Sejumlah peserta diklat membenarkan bahwa pencopotan terjadi saat kegiatan masih berlangsung. Tak ada penjelasan terbuka. Tak ada surat keputusan yang dibacakan di forum resmi. Instruksi datang, nama dicoret, proses selesai.
Hingga kini, Kementerian Agama belum memberikan keterangan rinci mengenai alasan pembatalan tersebut. Apakah ada persoalan administratif yang luput sejak awal? Ataukah evaluasi baru muncul belakangan? Pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan menggantung.
Ketiadaan penjelasan justru memperlebar spekulasi. Chiki dikenal publik sebagai figur yang vokal menyuarakan isu kemanusiaan dan sosial. Di ruang digital, warganet mulai mengaitkan pencopotan itu dengan sikap kritisnya di masa lalu. Dugaan ini belum terbukti. Namun dalam birokrasi yang tertutup, kecurigaan tumbuh subur.
Kasus Chiki membuka kembali soal klasik penyelenggaraan haji, transparansi rekrutmen petugas. Penugasan PPIH bukan sekadar soal teknis ibadah, tapi juga menyangkut otoritas, kepercayaan publik, dan tata kelola negara. Ketika keputusan diambil tanpa penjelasan, yang dipertaruhkan bukan hanya satu nama melainkan kredibilitas sistem.
Bagi Chiki, penugasan ini ia sebut sebagai impian lama. Impian itu kandas sebelum sempat berangkat. Di Pondok Gede, harapan berhenti di balik pintu diklat.
Kini, sorotan mengarah ke penyelenggara. Tanpa klarifikasi yang terbuka dan berbasis aturan, pencoretan Chiki Fawzi akan terus menjadi teka-teki. Bagaimana mungkin seseorang yang telah lolos seleksi dan mengikuti pelatihan, mendadak digugurkan di detik terakhir?
























