Peringati Haul ke-351 Raja Gowa Sultan Hasanuddin, LKG Gelar Tahlilan dan Kirab
bukabaca.id, Gowa – Lembaga Kerajaan Gowa (LKG) turut memperingati Haul ke-351 mangkatnya Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke-16 dengan menyelenggarakan beberapa kegiatan.
Awalnya pada peringatan tersebut diselenggarakan acara tahlilan, lalu dilanjutkan dengan acara kirab keesokan harinya, dengan membawa sebanyak 9 bendera Bate Salapang dengan tabur bunga.
Acara kirab tersebut dipimpin langsung oleh Andi Bau Malik Karaengta Tukkajannangngan beserta Gallarrang dari Batesalapang dan Bate anak Karaeng juga dihadiri oleh ketua PSKN, Andi Mapparessa Krg Turikale Maros dan Ketua Majelis Ulama Kabupaten Gowa, H. Abubakar Paka, di kompleks Makam Sultan Hasanuddin, tepatnya di jalan Pallantikang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sabtu (12/6/2021).
Pada kegiatan peringatan ke-351 tahun tersebut, juga sempat ditampilkan sebuah parade kirab dari pasukan kerajaan dengan menurunkan semua panji Kerajaan Gowa dalam mengawal serta mengiringi foto Sultan Hasanuddin ke kompleks makam.
Keempat pemimpin pasukan parade kirab atau Pangngulu Bundu tersebut terdiri dari keluarga besar Kerajaan Gowa yaitu Keturunan Raja Gowa ke 34 yang diwakili oleh Andi Yusuf Bau Sawa, Gallarrang Tombolo yang diwakili oleh Ahmad Yusuf Daeng Nompo, Anrongguru Bontonompo yang diwakili oleh Citra Mahardhika Daeng Se’re, dan Karaeng Borisallo yang diwakili oleh Hendra Mappasomba.
Ketua panitia pelaksanaan Haul Sultan Hasanuddin ke-351, Andi Bau Malik Barammamase Karaengta Tukkajannangang mengungkapkan bahwa acara yang digelar berjalan dengan baik dan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Lebih lanjut katanya, kegiatan ini baru pertama kali dilakukan setelah tahun lalu tertunda karena kabupaten Gowa saat itu masih berada dalam zona bahaya Covid-19.
Hal ini juga diungkapkan salah satu pemimpin pasukan parade kirab atau Pangngulu Bundu tersebut terdiri dari keluarga besar Kerajaan Gowa yaitu Keturunan Raja Gowa, Gallarrang Tombolo yang diwakili oleh Ahmad Yusuf Daeng Nompo.
“Dewan adat kerajaan Gowa menginformasikan bahwa terpilih empat orang panglima pasukan yang dipercaya memimpin pasukan kerajaan untuk mengawal Foto Sultan Hasanuddin dalam rangkaian prosesi Haul,” jelas Ahmad Yusuf Daeng Nompo.
Diketahui, salah satu syarat utama yg menyebabkan Sultan Hasanuddin dapat menaiki tahta Kerajaan Gowa yang Agung adalah karena beliau memang mendapat amanah sebagai pewaris Pemerintahan Kerajaan Gowa dari Ayahandanya Sultan Muhammad Said. Titah Baginda adalah aturan yang harus dijalankan.
Didalam bahasa Makassar kita mengenal kata-kata adat yang berlaku di kerajaan sebagai berikut “Makkanama’ Nu mammio” yg artinya “Aku berkata/bertitah dan kalian hanya mengiyakan”. Di sini jelas bahwa kata-kata Raja harus dijunjung tinggi dan ditaati.
Selain itu, rakyat Gowa pada saat itu sangat menerima dan siap mentaatinya. Hal itu dapat dilihat dari jawaban rakyatnya “Akkanamaki Nakimammio” artinya bersabdalah tuanku dan kami rakyatmu siap mengiyakan/ melaksanakan.
Ini adalah tatanan adat yg sangat luar biasa ‘Issengi Kalennu Nanuisseng Empoannu‘. Bahkan sebahagian pengamat sistem pemerintahan dunia mengakui bahwa sebelum Eropa mengenal demokrasi kerajaan gowa lebih dulu menganut sistem pemerintahan demokrasi terpimpin.
Dilihat dari situs peradaban masa lampau Kerajaan Gowa ini bukan Kerajaan yg dibesar besarkan pada kertas kekinian, tetapi sebuah kerajaan megah dan besar, benteng eks Kerajaan Gowa bukan cuma satu, keteraturan pemerintahannya ketaatan rakyatnya menjadikan gowa sebagai kerajaan yg memiliki angkatan perang baik darat maupun maritim yg cukup disegani.
Sekadar diketahui, bahwa Gowa menghadirkan SDM yang sampai saat ini masih menjadi buah bibir ke seantero jagad. (*)























