Saoraja Institute Gelar Riset Terkait Persepsi Milenial Terhadap Kondisi Ekonomi Sosial di Maros
bukabaca.id, Maros – Saoraja Institute menggelar agenda rilis riset dan survey terkait persepsi pemuda/milenial terhadap hari jadi dan kondisi sosial ekonomi Kabupaten Maros, Senin (12/7/2021).
Kegiatan tersebut diselenggarakan secara langsung di salah satu cafe di pelataran terminal PTB, Jalan Azalea, Kelurahan Pettuade, Kabupaten Maros, dengan tetap memperketat protokol kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui Instagram.
Dalam kegiatan kali ini turut menghadirkan Bupati Maros, Chaidir Syam, Akademisi Universitas Hasanuddin, Prof. Yusran Jusuf. Sekretaris Umum DPD KNPI Maros, Ali Rusdy, dan Direktur Eksekutif Saoraja Institute, Amul Hikmah Budiman.
Dalam sambutannya sebagai pemandu kegiatan, Rahmat Basri yang merupakan Direktur Riset Saoraja Institute mengawali acara dengan penguatan kebangsaan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama seluruh audiens yang hadir dari golongan Akadamisi, Komunitas dan OKP.
Dalam paparan Saoraja Institute, mengambil 100 responden dari pemuda yang berusia 16-30 tahun dari berbagai latar belakang serta unsur tokoh pemuda di Kabupaten Maros.
Kepada awak media Amul Hikma Budiman Direktur Eksekutif Saoraja Institute, mengatakan, Terkait hari jadi, masih ada 30,8 persen pemuda yang belum mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Maros.
“Serta angka yang sangat tipis antara pemuda yang setuju dengan hari jadi Maros pada tanggal 4 Juli berdasarkan UU Tahun 1959 sebagai dasar pembentukan Maros serta menginginkan hari jadi Maros berdasarkan sejarah-sejarah kerajaan yang ada di Maros seperti Kabupaten lain yang ada di Sulawesi Selatan yang sudah berumur ratusan tahun,” ungkap Amul.
“Angkanya antara 53% yang setuju 4 Juli, dan 47% yang ingin berdasarkan sejarah kerajaan. Artinya masih sangat tipis, pemuda masih butuh literatur sejarah hari jadi lebih mendalam dan massif,” imbuh Mahasiswa Pascasarjana Unhas tersebut.
Berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi, Amul juga menuturkan lebih jauh bahwa pemuda masih sulit mendapatkan lapangan kerja dan butuh beasiswa pendidikan dari Pemerintah Daerah. Beririsan dengan hal tersebut sehingga pemuda membutuhkan balai latihan kerja dan pusat UMKM untuk millenial.
“Dua hal tersebut presentasenya sangat tinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Chaidir Syam mengaku sangat mengapresiasi agenda riset dan survey yang dilakukan oleh Saoraja Institute.
“Kami berterima kasih atas data yang diberikan, ini bisa menjadi pijakan kami dalam mengambil kebijakan untuk kepemudaan,” ujarnya.
Berkaitan dengan hari jadi, Politisi PAN itu juga mengungkapkan, dalam waktu dekat akan berembuk dengan tokoh-tokoh budaya dan adat untuk berdiskusi terkait sejarah dan Kebudayaan Maros. Sementara untuk keinginan pemuda, Balai Latihan Kerja (BLK) sudah on process.
“Termasuk creative hub untuk anak muda sudah akan kami garap di Kecamatan Mandai, dan taman di samping Polres, yang tepat berada di Titik Kota Maros. Doakan kami, mampu menjalankan segala program bersama ibu wabup,” harapnya.
Sekadar diketahui, pada kegiatan Riset dan Survey tersebut pun ditutup dengan penyerahan hasil riset dari Saoraja Institute kepada Bupati Maros.























