Sebanyak 30 Siswa SMA Islam Athirah Jadi Agen of Change Pencegahan Perundungan, Ketua BMJ: Berikan Perubahan Positif
bukabaca.id, Makassar – Sebanyak 30 siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar terpilih menjadi agen of change atau agen perubahan dalam pencegahan perundungan di tingkat pendidikan. Seluruh peserta agen of change itu diharapkan bisa membawa perubahan yang positif kepada seluruh siswa-siswi di Sekolah Islam Athirah.
Terkait hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua BMJ Sekolah Islam Athirah 1 MakassarWilayah Kajaolaliddo, Novita Munnasar S.Kom pada saat memberikan sambutan di kegiatan sosialisasi program pencegahan perundungan, di Ruang Auditorium Sekolah Islam Athirah wilayah Kajaolaliddo, Kota Makassar, Kamis (23/9/2021).
“Saya sangat mengapresiasi kepada anak-anak yang mewakili teman-teman sebagai agen perubahan. Bullying itu sudah sangat terlihat ya, tetapi sampai sekarang belum ada perubahan. Tetapi mungkin saat ini bullying tidak terlalu terasa karena pandemi Covid-19 karena anak-anak jarang bertemu secara langsung,” jelas sosok yang akrab disapa Novi itu.
“Saya berharap sebelum menjadi agen perubahan ke luar sekolah, kalau bisa memberikan perubahan yang positif kepada adik-adik terkhusus di SMP, SD hingga TK, lalu silahkan membangun perubahan di luar sekolah,” harapnya.
Selain itu, Tawakkal Kahar selaku Kepala Sekolah Islam Athirah 1 Makassar menyampaikan bahwa kegiatan pencegahan perundungan dilakukan oleh seluruh sekolah penggerak.
“Kegiatan ini dilakukan untuk semua sekolah penggerak. Sekolah penggerak adalah dilihat dari potensi pengembang di sekolahnya. Kepala sekolah harus dites, diwawancarai dan harus lulus. Dan Alhamdulillah, di antara 16 sekolah di Makassar, Sekolah Islam Athirah terpilih menjadi salah satu sekolah penggerak. Nantinya semua sekolah penggerak ini bisa menjadi fasilitator untuk sekolah-sekolah lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, pencegahan perundungan ini sangat penting, karena Ketika perundungan terjadi maka akan membuat mental serta psikis siswa-siswi sakit.
“Tentu, siswa, pihak sekolah itu tidak ada yang setuju dengan perundungan. Ketika perundungan terjadi maka akan membuat mental serta psikis siswa-siswi sakit. Sehingga terkadang bisa membuat mereka takut untuk datang ke sekolah, karena takut dengan adanya perundungan,” jelasnya.
“Kami berharap fasilitator bisa memberikan komitmen kepada seluruh agen perubahan, terkait komitmen perubahan apa yang akan mereka lakukan ke depannya,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Sekolah Islam Athirah Makassar wilayah Kajaolaliddo, Mas Aman Uppi, S.Pd., M. Pd, mengatakan bahwa kegiatan ini digelar murni supaya seluruh peserta didik bisa meng-stop (menghentikan) tindakan bullying atau perundungan.
“Anda semua adalah orang-orang pilihan. Cukup dengan kita tidak mencela dan menghina orang lain maka itu sudah wujud kita dalam mencegah bullying atau perundungan. Merdeka belajar tidak akan berjalan dengan baik ketika perundungan masih saja menghantui kita. Maka satu-satunya jalan agar merdeka belajar bisa sukses, maka kita juga harus melakukan pencegahan atau melakukan stop pada perundungan,” jelasnya.
“Saya sangat mengapresiasi adanya program Kemendikbudristek ini. Untuk Seluruh agen perubahan, harus tetap semangat. Pelajari diri dulu, supaya tidak melakukan perundungan, lalu kita stop perundungan pada diri orang lain. Stop bullying untuk bisa maju,” tutupnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut yakni Wakil Direktur Sekolah Islam Athirah wilayah Kajaolaliddo, Pimpinan Unit SMA Islam Athirah wilayah Kajaolaliddo beserta jajarannya, Pengurus kegiatan sosialisasi sebanyak 30 peserta agen perubahan yang juga merupakan Siswa-siswi SMA Islam Athirah 1 Makassar, serta pewarta dari berbagai instansi.
Sebagai informasi, bahwa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diselenggarakan secara tatap muka, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, jaga jarak dan memakai masker.























