Subalternian Gelar Diskusi Terbuka Bertajuk Perempuan Menulis: Bukan Sekadar Curhat
bukabaca.id, Makassar – Subalternian menggelar diskusi terbuka dan terbatas di tengah Pandemi bertajuk Perempuan Menulis: Bukan Sekadar Curhat, di Hawala Cafe, Jalan Toddopuli 10 Borong, Kecamatan Manggala Kota Makassar, Selasa (21/9/2021).
Pembatasan ruang belajar formal masih menjadi keresahan oleh berbagai lapisan masyarakat, di tengah urgensi kompetensi yang memerlukan wadah atau ruang bertukar gagasan dalam menguatkan terdorongnya kreativitas.
Subalternian sebagai salah satu komunitas literasi bentukan Penerbit Subaltern yang fokus mewadahi orang-orang yang berkeinginan belajar bersama khususnya seputar literasi, berusaha menjadi katalisator di tengah kondisi seperti ini.
“Kita upayakan untuk bisa hadir di setiap kabupaten bahkan hingga pelosok sebagai rumah dan ruang bersama, hingga saat ini sudah ada tiga rekan yang mengkonfirmasi kesediaannya di tiga kabupaten antara lain, Kabupaten Maros, Makassar dan Gowa,” ujar Rahmat Mubarak leader Komunitas Subalternian
Lebih lanjut, ia mengaku progres dalam dua minggu belakangan telah menemukan sedikit demi sedikit jalan guna membangun harapan komunitas dan diterima baik oleh para pegiat literasi.
“Yang paling menarik itu di Maros kak, ada teman yang awalnya memang tertarik dengan buku namun beberapa waktu berlalu aktif di kegiatan komunitas pecinta alam dan dunia otomotif, saat ketemu pun dia merasa agak minder untuk kembali berjibaku dengan buku dengan alasan bukan Mahasiswa dan dari pemuda yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal lanjutan,” jelas Rahmat.
“Namun ternyata alasan itu berbanding terbalik, karena belum satu bulan sudah punya satu Essai, inilah yang semakin menjadi penegasan bahwa literasi itu bukan soal darimana kita sekolah atau di kampus ternama mana kita terdaftar tapi ini persoalan keinginan,” lanjutnya.
Komunitas literasi tersebut juga membangun kerjasama dengan beberapa warkop dan cafe, salah satunya di Hawaala Cafe yang diniatkan menjadi cikal bakal centra kegiatan literasi, hingga diinisiasinya Dilaog Perempuan Menulis yang dianggap menjadi bagian penting, berdirinya ruang bersama itu.
“InsyaAllah kedepannya kita akan mengagendakan kegiatan serupa, semoga ini menjadi hal yang dapat disambut baik oleh berbagai kalangan, kerja kolektif seperti ini tentu sangat membutuhkan sumbangsih keterlibatan dan pemikiran sehingga dari kami sangat terbuka untuk hal tersebut,” harap Rahmat.
Dialog yang menghadirkan dua tokoh perempuan, Andi Tenriawaru penulis buku berjudul Revivalisme Islam Timur Tengah di Indonesia dan Sadriah dengan karya Buku Bukan Pilihan.
Kehadirannya diharapkan oleh Subalternian dapat memantik kembali potensi yang teredam dan terbelenggu.
Pengelola Hawaala Cafe, Vita sangat terbuka memberikan ruang sinergi untuk penggiat literasi dengan menyediakan ruangan khusus untuk berkegiatan.
“Semoga kedepannya bisa lebih intens untuk kegiatan yang berbau edukasi, kami akan mengusahakan untuk memfasilitasi agat kegiatannya bisa lebih nyaman. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita semua,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Pembicara yang juga salah seorang Akademisi, Andi Tenriawaru memulai menarik perhatian para peserta dengan sedikit membahas kilas balik perjuangannya untuk menyandang status mahasiswi.
“Saya di tolak universitas dari 2008-2010, Allah baru memberi saya jalan 2011. Padahal saya menggaransi saya bukan orang yang malas dalam hal belajar, namun rencana Tuhan begitu indah,” tuturnya.
Buku yang ditulisnya lahir dengan perjalanan panjang, kurang lebih 8 tahun sampai judul Revivalisme Islam Timur Tengah di Indonesia layak disebut dengan buku, yang merupakan skripsinya yang dianggap sebagai bentuk terimah kasihnya menjadi mahasiswa hingga menyelesaikannya kurang dari 4 tahun,
Pengusaha Pizza itupun mengajak untuk tetap berjalan sesuai koridor.
“Saya menentang dikotomi dan emansipasi, perempuan tak perlu menyaingi laki-laki karena apa yang akan disaingi demikian laki laki tak perlu merasa tercedarai. Semakin dihargainya Perempuan itu ketika dia paham batasannya,” lanjut Tenri sapaan akrabnya.
Pertanyaan kritis yang dilahirkannya di tengah alotnya dialog, Apa Yang lebih menakutkan dari kompetisi laki-laki dan perempuan?
“Ada yang lebih mengerikan, kompetisi antar perempuan dan itu cukup sering terjadi dan ketika keruwetan itu terjadi sulit untuk disatukan kembali,” jawabnya sendiri atas pertanyaannya
Stigma yang lumrah di masyarakat tak dapat dipungkiri masih acap kali perempuan ditempatkan pada ruang kedua.
“Ada banyak indikator pendekatan kenapa mindset kita merasa termarjinalkan, diantaranya faktor cultural, misalnya budaya patriarki yang sedari rumah salah satu tempat munculnya,” jelas Tenri yang juga founder Belajar Bersama.
Lebih jauh, ia juga sempat menguraikan definisi Kuat (Strong), bahwa ada kuat menerobos apapun di hadapannya, sebaliknya ada yang kuat mengendalikan dirinya.
“Untuk memulai menulis yang pertama niatkan, Tulis yang anda sukai dan dalam keadaan senang ditunjang dengan lingkaran pergaulan, silahkan cari teman yaang saling mendukung. Tak kalah pentingnya sugesti diri anda untuk tetap senang seolah sedang bermain,” jelasnya menguraikan konsep anak kecil yang sedang bermain dengan riang tanpa tekanan. Hal tersebut dimaksudkan agar intelektual dan memori otak saling menunjang dalam memudahkan pekerjaan
Lain halnya dengan Sadria mahasiswi yang berhasil melahirkan karyanya di tengah Pandemi,
“Sesedarhana yang saya lakukan selama ini, tulis yang anda pikirkan jangan panik memikirkan apa yang baru akan anda tulis karena itu mengganggu konsentrasi, bisa memulai dari menetapkan tokoh, penokohan,” pungkasnya.(*)























