Featured

Jangan Asal Framing, Jangan Adu Domba

Ilustasi (foto/mypangandaran).

BUKABACA.co.id, SELAYAR – Gelombang informasi yang bergerak cepat di era digital telah mengubah cara publik memahami realitas. Dalam hitungan detik, sebuah peristiwa dapat dipotong, disusun ulang, lalu disajikan dengan sudut pandang tertentu yang belum tentu utuh. Di titik inilah framing memainkan peran krusial, sekaligus berpotensi menjadi problematik.

Framing pada dasarnya adalah cara media atau individu membingkai sebuah peristiwa. Ia tak selalu keliru. Dalam praktik jurnalistik, framing justru menjadi bagian dari proses penyederhanaan fakta agar mudah dipahami publik. Namun, ketika framing dilakukan secara serampangan tanpa verifikasi memadai, tanpa konteks yang utuh, ia berubah menjadi alat yang menyesatkan.

Lebih jauh lagi, framing yang keliru sering kali berujung pada adu domba. Potongan informasi yang diambil sebagian, judul yang provokatif, hingga narasi yang menonjolkan konflik dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Dalam konteks sosial yang majemuk seperti Indonesia, hal semacam ini bukan sekadar persoalan etika media, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial.

Fenomena ini semakin terlihat di media sosial, di mana setiap orang bisa menjadi “penyiar”. Sayangnya, tidak semua memiliki kesadaran jurnalistik. Konten yang mengejar sensasi kerap lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang telah diverifikasi. Akibatnya, publik disuguhi realitas yang bias bahkan terkadang sengaja dipelintir untuk kepentingan tertentu.

Padahal, prinsip dasar komunikasi publik adalah kejujuran dan tanggung jawab. Informasi seharusnya menjadi jembatan pemahaman, bukan alat pemecah belah.

Media, sebagai salah satu pilar demokrasi, memikul tanggung jawab besar untuk menjaga akurasi dan keseimbangan. Begitu pula individu, yang kini memiliki peran sebagai produsen sekaligus konsumen informasi.

Karena itu, penting untuk menahan diri dari godaan menyederhanakan persoalan secara berlebihan, apalagi memelintir fakta demi kepentingan sesaat. Kritik tetap perlu, kontrol sosial tetap penting, tetapi harus disampaikan dengan data yang utuh dan narasi yang berimbang.

Pada akhirnya, publik juga dituntut untuk lebih cermat. Tidak semua yang viral layak dipercaya, tidak semua yang ramai dibicarakan mencerminkan kebenaran. Di tengah arus informasi yang kian deras, sikap kritis menjadi benteng utama.

Jangan asal framing. Jangan adu domba. Karena ketika informasi kehilangan integritasnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran, tetapi juga kepercayaan.

Penulis: Nur Afandi
Founder BUKA BACA MEDIA

Girl in a jacket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

You cannot copy content of this page