Mahasiswa KKN Posko 45 Masuk Desa Laiyolo Selayar, Kades Titip Inovasi dan Hormati Adat Lokal
BUKABACA.co.id, SELAYAR – Kedatangan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 45, Mega Rezki Makassar di Desa Laiyolo, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, disambut hangat Kepala Desa Laiyolo, Bakhnur Arfandi.
Bakhnur mengaku senang sekaligus bangga Desa Laiyolo dipilih sebagai salah satu lokasi pengabdian perguruan tinggi. Ia berharap kehadiran mahasiswa tidak sekadar menjalankan program akademik, tetapi ikut membaca dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurut Bakhnur, mahasiswa dapat menjadi mitra strategis pemerintah desa dan warga dalam mendorong perubahan, terutama di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
“Mahasiswa kami anggap sebagai mitra strategis untuk membantu persoalan warga di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Saya berharap mahasiswa membawa ide kreatif serta inovasi segar bagi masyarakat,” ujar Bakhnur.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membawa jarak selama berada di tengah masyarakat. Kemampuan beradaptasi dan menghormati norma setempat, kata dia, menjadi bagian penting dari keberhasilan pengabdian.
“Pesan saya untuk adik-adik mahasiswa, selalu jaga sopan santun, rendah hati, dan hormati adat istiadat lokal. Penting untuk segera membaur dengan warga,” katanya.
Bagi para mahasiswa, sambutan warga dan perangkat Desa Laiyolo menjadi kesan awal yang positif. Kehangatan masyarakat membuat perjalanan menuju lokasi pengabdian terbayar sekaligus menumbuhkan semangat untuk menjalankan program yang telah disiapkan.
Namun, bagi Bakhnur, kehadiran mahasiswa juga membawa tanggung jawab. Program KKN diharapkan meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan warga, bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika masa pengabdian berakhir.
Desa Laiyolo kini menjadi ruang perjumpaan antara gagasan akademik dan kebutuhan masyarakat. Dari sana, mahasiswa ditantang membuktikan bahwa pengabdian bukan hanya tentang datang, menjalankan program, lalu pulang, melainkan menghadirkan gagasan yang mampu bertahan setelah mereka meninggalkan desa.























