Transformasi Total, Makassar Siap Tinggalkan Krisis Sampah
BUKABACA.co.id, MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin optimistis rangkaian transformasi pengelolaan sampah yang dijalankan Pemerintah Kota Makassar akan mampu membawa kota ini keluar dari persoalan persampahan yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan utama.
Transformasi tersebut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), penguatan partisipasi masyarakat, pendidikan lingkungan sejak usia dini hingga pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
Optimisme itu disampaikan Munafri saat menjadi narasumber pada City-to-City Learning and Innovation Lab: Waste Management Practices yang diselenggarakan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) di Depok, Selasa (28/7).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia untuk berbagi praktik terbaik dan inovasi dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Dalam paparannya, Munafri menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak dapat hanya berfokus pada pengelolaan di hilir. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari sumber utama penghasil sampah, yakni rumah tangga.
“Kampanye kami sederhana, cukup dua ember di setiap rumah. Satu untuk sampah organik dan satu lagi untuk sampah nonorganik. Seluruh rumah tangga wajib memilikinya,” kata Munafri.
Ia menjelaskan, sampah organik selanjutnya diolah melalui program Teba Modern dan pemanfaatan biopori di lingkungan permukiman, sementara sampah nonorganik diarahkan ke bank sampah maupun fasilitas daur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi.
Langkah tersebut diperkuat dengan keterlibatan sekitar 6.000 ketua RT yang menjadi ujung tombak pengawasan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Di sisi hilir, Pemkot Makassar juga terus melakukan pembenahan TPA dengan meningkatkan sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.
Berbagai infrastruktur pendukung, seperti TPS3R, pengolahan air lindi, pemanfaatan gas metana, hingga pengembangan teknologi pengolahan sampah, menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan konvensional.
Pemerintah kota juga mendorong percepatan penerapan konsep reduce, reuse, recycle (3R) sebagai fondasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Munafri menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi tersebut. Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah kini mulai diterapkan di sekolah-sekolah sejak jenjang PAUD, SD hingga SMP agar budaya menjaga lingkungan tumbuh sejak usia dini.
Selain itu, Pemkot Makassar memperkuat kolaborasi melalui pembentukan Dewan Lingkungan yang melibatkan akademisi, komunitas, pegiat lingkungan, hingga pelaku ekonomi kreatif.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat inovasi sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Munafri meyakini seluruh rangkaian transformasi yang sedang dijalankan akan menghasilkan perubahan nyata bagi Kota Makassar.
Dengan pembenahan yang dilakukan secara konsisten dari hulu hingga hilir, ia optimistis Makassar mampu menjadi salah satu daerah yang berhasil keluar dari persoalan persampahan sekaligus menjadi contoh pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan di Indonesia.
“Kami meyakini, insyaallah dengan proses yang kami lakukan, Kota Makassar akan menjadi kota yang paling pertama yang berhasil keluar dari persoalan persampahan di Indonesia,” tegas Munafri. (*)























